logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 06 Desember 2007 NASIONAL
Line

PETUALANGAN

Keliling Dunia dengan Taksi Bertenaga Matahari


SM/Reuters DI BALI:Louis Palmer mengemudikan taksinya yang bertenaga matahari ke tempat konferensi perubahan iklim di Nusa Dua, Bali, kemarin.(26)

Petualang Swiss ikut menyemarakkan konferensi perubahan iklim di Bali. Dia sengaja singgah di Pulau Dewata itu dalam perjalanannya keliling dunia dengan mobil bertenaga matahari. Petualangan itu dimaksudkan untuk menyadarkan orang tentang adanya pemanasan global.

TIDAK semua orang bersikap pesimistis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Contohnya Louis Palmer, guru asal Swiss, yang menciptakan taksi bertenaga matahari dan berkeliling dunia dengan mobil karyanya tersebut.

''Saya ingin orang menyadari ada masalah pemanasan global, namun orang juga bisa mengupayakan solusinya,'' ujar Palmer.

Dengan taksi roda tiga dan berkecepatan maksimal 90 kilometer itu, dia memulai perjalanannya dari Lucerne Juli lalu. Dia menjadi orang pertama yang berkeliling dunia dengan menggunakan mobil bertenaga matahari.

''Untuk kali pertama dalam sejarah, orang mengendarai mobil berkeliling dunia tanpa menggunakan setetes pun bahan bakar minyak. Mobil ini sepenuhnya digerakkan dengan energi matahari,'' kata dia saat singgah di Bali, bertepatan dengan penyelenggaraan konferensi perubahan iklim 3-14 Desember.

Sejauh ini, dia telah menempuh jarak 14.400 kilometer dengan taksi berwarna biru putih itu. Tujuh belas negara telah dilewatinya. Mulai dari Rumania, Turki, Suriah, India, dan lainnya.

Dia menuturkan, rute selanjutnya adalah Australia, negara-negara Amerika Latin, Amerika Serikat, Afrika utara, dan akhirnya kembali ke Swiss. Menurut perkiraannya, dia membutuhkan waktu sekitar satu tahun lagi untuk menyelesaikan tur keliling dunia tersebut.

Garis Khatulistiwa

Karena hanya mengandalkan energi matahari, rute perjalanannya selalu melewati wilayah-wilayah yang berada di garis khatulistiwa. Mobil yang digunakan tersebut dilengkapi panel berukuran enam meter persegi untuk menyerap panas matahari.

Namun tidak seluruh perjalanannya ditempuh hanya dengan kendaraan bertenaga matahari itu.

Adakalanya dia harus menumpang kapal berbahan bakar solar untuk sampai ke tujuan. Misalnya, saat dia berangkat dari India ke Indonesia.

Menurut penuturannya, beragam orang telah menumpang taksi ramah lingkungan tersebut. ''Saya pernah membawa seorang penumpang mabuk di Hongaria. Pangeran Hassan dari Yordania juga pernah naik taksi ini,'' ujarnya.

Di Nusa Dua, Bali, salah satu tugasnya adalah mengantarkan Kepala Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Achim Steiner dari bandara ke hotel.

Dia menjelaskan, taksi itu hanyalah salah satu cara untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak. Menurut perhitungannya, butuh biaya sekitar 6.000 euro (sekitar Rp 80 juta) untuk memproduksi mobil seperti itu.

''Kecepatan maksimalnya 90 kilometer per jam. Dalam lalulintas kota yang ramai, Ferrari hanya bisa melaju dengan kecepatan 50 kilometer per jam. Begitu pula mobil ini,'' ujarnya.

Panjang mobil itu sembilan meter, termasuk trailer di belakangnya. Bobot keseluruhan mencapai 700 kilogram. Palmer harus menggunakan baterai cadangan apabila dia harus menempuh jarak sampai 100 kilometer sehari.

Perjalanannya tidak selalu lancar. Saat di Suriah, trailer-nya ditabrak mobil lain. ''Waktu itu, Menteri Transportasi Suriah menyuruh polisi untuk mengawal saya. Kemana pun taksi ini pergi, polisi selalu mengawal dengan konvoi motor dan sirinenya,'' tutur Palmer bangga.(rtr-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA