| Selasa, 04 Desember 2007 | NASIONAL |
Pertamina Sulit Gandeng Investor AsingMALANG- Ketua Dewan Penasihat Indonesia Research & Strategic Analysis (IRSA), Faisal Basri mengatakan potensi minyak bumi di Indonesia sebenarnya masih cukup untuk dieksplorasi. Namun, kata dia, biayanya 45% lebih tinggi dari produksi saat ini, karena Pertamina belum memiliki mesin memadai untuk meningkatkan eksplorasi. Faisal mengatakan itu dalam paparan "Prospek Ekonomi Indonesia 2008-2009 di Tengah Turbulensi Ekonomi dan Menyongsong Pemilu", di seminar Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) di Hotel Tugu Malang, kemarin. Menurut dia, menggandeng investor asing merupakan solusi terbaik untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, namun sistem yang tidak sehat di tubuh Pertamina menjadikan upaya itu semakin sulit dilakukan. Kebijakan Instan ''Pungutan liar di sana-sini telah membuat Pertamina semakin sakit. Andaikata manajemen Pertamina lebih bersih, maka kemungkinan harga gas maupun BBM bisa diturunkan," katanya. Faisal mengkritik kesenangan pemerintah membuat kebijakan yang instan, sehingga perekonomian morat-marit. Contoh, dalam mengurangi subsidi BBM oleh masyarakat, diberlakukan kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Namun saat masyarakat beralih ke gas tidak ada yang bisa menjamin harga gas juga akan dipermainkan. ''Sekarang masyarakat tinggal melihat komitmen dari Pertamina saja,'' kata Faisal. Sementara itu, menjelang Pemilu 2009 pengusaha untuk sementara tidak akan diruwetkan dengan batasan kebijakan perekonomian. Alasannya karena kosentrasi lebih banyak diarahkan kepada urusan politik. Namun, pengusaha harus berhati-hati dalam menginvestasikan dana mereka di perusahaan yang memiliki ketergantungan dengan BBM. Apalagi Indonesia mempunyai ketergantungan besar terhadap impor minyak bumi dunia yang harganya terus naik sejak 2004 lalu. Peningkatan harga minyak dunia akan terus meroket hingga 2008-2009 mendatang. Dengan demikian, inflasi semakin merangkak naik karena biaya produksi sejumlah perusahaan yang memiliki ketergantungan terhadap BBM sebagai bahan baku semakin tinggi. Dia mengatakan meskipun harga minyak dunia naik dan Amerika mulai mengalami ancaman inflasi, tetapi dengan momentum pemilu justru akan lebih menguntungkan bagi pengusaha. Faisal mengatakan jelang pemilu pemerintah akan mengurangi campur tangan mereka dalam pembuatan kebijakan ekonomi.(jo-77) |