| Selasa, 04 Desember 2007 | NASIONAL |
Australia Setuju, AS Menolak
NUSA DUA- Terpilihnya Kevin Ruud menjadi perdana menteri baru Australia membawa "iklim baru" bagi Protokol Kyoto. Negara Kanguru itu akhirnya setuju untuk meratifikasi Protokol Kyoto sekaligus menjadi anggota penuh dari Conference of the Parties (COP). Sikap Australia ini diungkapkan Presiden United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Rachmat Witoelar di Hotel Westin Nusa Dua, Bali, Senin (3/12). "Delegasi Australia menyatakan, PM Kevin Ruud setuju meratifikasi Protokol Kyoto dan Australia juga menyatakan menjadi anggota penuh COP," katanya. Menteri Negara Lingkungan Hidup RI itu menyatakan kegembiraannya, karena dengan masuknya Australia sebagai anggota COP berarti ganjalan pelaksanaan Protokol Kyoto menjadi berkurang. "Dengan demikian, pelaksanaan pencegahan dampak perubahan iklim dunia mengalami peningkatan, tinggal Amerika Serikat yang belum setuju meratifikasi Protokol Kyoto," tandasnya. Peran Ruud Ketua Delegasi Indonesia Emil Salim, mengatakan, keterlibatan Australia terhadap protokol itu terkait dengan adanya perubahan kepemimpinan Perdana Menteri Australia dari John Howard kepada Kevin Ruud. PM baru itu dalam kampanyenya menggemborkan bahwa Australia akan meratifikasi Protokol Kyoto. Jadi, tinggal Amerika Serikat saja yang belum meratifikasi. "Walaupun hal itu (ratifikasi-red) merupakan kewenangan setiap negara, namun sebagai anggota, Amerika Serikat tetap wajib hadir dalam konvensi ini," jelasnya. Mengenai keenganan AS meratifikasi, Emil menyatakan itu urusan politik AS. "Itu permasalahan mereka sendiri, kita tidak mau ikut campur." Saat dipimpin Bill Clinton, lanjutnya, sebenarnya AS sudah meratifikasi, namun ketika George W Bush menjadi presiden, mereka menolaknya. "Kita harap dengan pelaksanaan konvensi sekarang akan ada perkembangan. Saat ini isu lingkungan menjadi mode untuk politik, seperti Barack Obama yang mengangkat isu-isu lingkungan saat kampanye," imbuhnya. Secara terpisah, Ketua Delegasi Amerika Serikat, Harlan L Watson meminta agar negara-negara peserta konvensi UNFCCC menghargai pendapat mereka terkait ratifikasi Protokol Kyoto. "Kami sadar akan isu yang berkembang. Kami sebagai sebuah negara industri besar belum mau berpartisipasi dan meratifikasi Protokol Kyoto. Tapi, kami juga meminta kepada negara-negara peserta konvensi untuk menghargai keputusan pemerintah AS," katanya dalam jumpa pers di Hotel Westin Nusa Dua, Bali, Senin (3/12). Menurutnya, AS dalam pertemuan yang digelar UNFCCC juga ingin turut membantu dalam mendukung perkembangan teknologi yang bersifat ramah lingkungan. (J22-48) |