logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 04 Desember 2007 NASIONAL
Line

Martin Mengaku Bukan Benda Cagar Budaya

  • Kiriman Keris dan Tombak dari AS

SOLO- Enam belas keris dan satu tombak sitaan petugas bea cukai di Bandara Soekarno-Hatta yang diduga sebagai barang selundupan, ilegal, atau merupakan benda cagar budaya, sudah ada kejelasan.

Martin Lubis atau yang memiliki nama lain yakni R Martin Notoharjo (39) selaku penerima barang tersebut membantah kalau barang yang dikirim dari keluarga yang tinggal di Florida, Amerika Serikat itu bermasalah.

Pemberitaan yang santer kalau pusaka yang menjadi koleksi keluarga itu seolah-olah sebagai benda-benda selundupan merupakan fitnah dan sangat mendiskreditkan.

Pernyataan tersebut dikemukakan Martin Lubis saat menggelar jumpa pers di Jalan Mataram XII No 7 Banjarsari, Solo, kemarin.

Dia menegaskan 16 keris dan satu pusaka jenis tombak kiriman dari keluarganya di Florida, yang disita pihak bea cukai di Bandara Soekarno-Hatta beberapa hari lalu, tidak perlu dipersoalkan lagi.

Alasannya pusaka tersebut tidak dilarang karena bukan merupakan benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

Benda-benda tersebut, lanjut dia, merupakan koleksi pribadi dan sebagian dibeli dari pasar loak di Amerika. Sedianya pusaka yang sebagian berasal dari Bugis itu, lanjut dia, sengaja dipulangkan ke Indonesia untuk dijamas maupun dirawat kembali, terlebih lagi sebagian kantong keris sudah rusak dan usang.

Benda tosan aji milik keluarganya tidak perlu dipersoalkan lagi, lanjut Martin, karena sudah ada pernyataan dari pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) yakni Saiful Mujadid yang menyatakan kalau benda tosan aji milik keluarganya yang disita petugas bea dan cukai, setelah dicek tidak ada masalah.

''Hari ini (Senin-red), saudara saya, Jeffri Lengkey yang tinggal di Pamulang Barat, Ciputat, hendak mengurusi benda-benda tersebut yang disita pihak bea dan cukai,'' tandasnya.

Martin Lubis bermaksud menyelamatkan barang-barang antik yang berada di luar negeri. Namun kenapa malah dipermasalahkan. Padahal, menurutnya, banyak barang berharga yang berada di luar negeri, namun tidak dipersoalkan.

Kalau pun mempersoalkan benda-benda cagar budaya semacam keris, lanjut dia, banyak sekali yang sudah berada di Eropa maupun negara lainnya. Dia mengetahui hal itu sudah berlangsung cukup lama.

Dia mengaku mengetahui sejumlah tempat seperti museum yang menyimpan barang-barang bernilai tinggi itu. Hanya saja, ia tidak menyebutkan satu persatu.

Kalau saja pengiriman 16 keris dan satu buah tombak yang dikirim keluarganya dari Florida masih dipersoalkan aparat penegak hukum, dia bersedia dan siap menjelaskan.

Menurut dia, sebagian keris sengaja dibawa keluarganya yang hijrah ke Amerika pada tahun 1990-an. ''Sedianya benda-benda itu sengaja dikirim ke Indonesia untuk dijamas dan dirawat,'' tuturnya. (G11-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA