| Selasa, 04 Desember 2007 | NASIONAL |
Rachmat Witoelar Presiden Ke-13 UNFCCCMinta Dukungan Negara MajuNUSA DUA- Presiden United Nations Framework Conventions on Climate Change (UNFCCC) yang baru Rachmat Witoelar meminta negara-negara partisipan dalam konferensi untuk mendukung gerakan pelestarian hutan guna mengurangi emisi udara. "Negara maju diharapkan dapat membantu dalam investasi pelestarian lingkungan di negara-negara berkembang sehingga upaya mendorong program forestry dapat berjalan," jelas Meneg LH itu dalam sambutannya di sidang Konferensi Perubahan Iklim 2007 di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Senin (3/12). Menurut Rachmat setiap program pemberdayaan hutan guna mengurangi emisi gas buang yang dilakukan negara-negara berkembang harus diberikan insentif. "Hal ini tentu saja pada akhirnya dapat meningkatkan investasi di negara-negara berkembang dan pada akhirnya dapat menggerakkan perekonomian," ujar dia. Kurangi Kemiskinan Jika program pelestarian hutan ini terus dapat berjalan, dapat berperan dalam mengurangi kemiskinan di negara-negara berkembang. "Karena itu program-program pelestarian lingkungan harus terus didorong," katanya. Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendorong percepatan program pelestarian lingkungan dan gerakan pelestarian hutan guna mengurangi emisi udara. ''Dengan diadakannya konvensi ini, diharapkan segala macam penelitian yang berkaitan dengan perubahan iklim dunia dapat menjadi pertimbangan negara-negara di dunia untuk semakin sadar akan pelestarian lingkungan,'' kata Presiden Ke-13 UNFCCC itu. Koferensi Ke-13 ditargetkan menghasilkan sebuah persetujuan positif dan terus mendorong pencegahan perubahan iklim dengan program-program yang komprehensif. ''Kita harus sadar, pelestarian lingkungan sangat penting dalam menjaga dunia dari kehancuran,'' tegas Rachmat yang menggantikan Ketua UNFCCC Ke-12 David Mwiraria dari Kenya. Sidang UNFCCC tahun ini mempunyai empat agenda. Yaitu mitigasi, adaptasi, transfer teknologi serta pembiayaan dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai dampak perubahan iklim global. Pendanaan Adaptasi Sementara itu, Ketua Delegasi Indonesia untuk UNFCCC Emil Salim menjelaskan, koferensi UNFCCC 2007 akan membahas pembentukan pendanaan adaptasi. Pendanaan ini akan digunakan oleh negara-negara anggota Conference of the Parties (COP) untuk beradaptasi dengan masalah-masalah yang timbul. ''Saya yakin pembahasan pendanaan ini bisa dirampungkan di Bali. Ada harapan semua negara anggota pada pembukaan tadi setuju pembentukan Adaptation Fund,'' katanya dalam jumpa pers di Pavilion Indonesia kompleks Hotel Westin Nusa Dua, Bali, Senin (3/12). Saat ini, lanjut dia, mekanisme pendanaan baru hanya pada aspek mitigasi atau penanggulangan untuk mengurangi emisi gas buang karbon ke atmosfir, sedangkan adaptasi berarti menyesuaikan diri. ''Seperti Belanda, bisa hidup di lingkungan lebih rendah dari laut. Mereka bisa transfer teknologinya ke kita. Sebab, makin hari permukaan air laut makin tinggi,'' katanya.(J22-48) |