logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 02 Desember 2007 NASIONAL
Line

Blora Center: Soal Cuci Piring Bisa Jadi Senjata Makan Tuan

JAKARTA-Ucapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, soal cuci piring mengundang tanggapan pro dan kontra. Ungkapan itu bisa menjadi senjata makan tuan. Alih-alih simpati, masyarakat justru disadarkan atas kegagalan Yudhoyono dalam penyelesaian kasus korupsi. ''Kalimat itu sensitif. Orang justru akan melihat komitmen Yudhoyono dalam pemberantasan korupsi, yang ternyata jauh dari kenyataan," kata Direktur Blora Center, Yusuf Rizal, dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (1/12).

Menurutnya, kalimat siang dan malam pemerintahan Yudhoyono cuci piring, justru akan membangkitkan sensitivitas masyarakat untuk menagih janji Yudhoyono dalam upaya pemberantasan korupsi yang banyak terhenti di tengah jalan. Sebab, kata dia, banyak kasus korupsi dalam pemerintahan Yudhoyono yang dijadikan komoditas barang dagangan. Seperti yang terlihat dalam berbagai kasus-kasus besar yang tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Agung.

Yusuf mengakui, bila dilihat dari fakta yang ada, realisasi janji dalam memberantas korupsi, prestasi Yudhoyono jauh lebih baik dibandingkan pemerintahan Gus Dur dan Megawati. "Itu bisa dilihat dengan adanya perubahan dan pembaruan pemberantasan korupsi."

Yudhoyono, menurutnya, memang harus tegas memberikan sinyal. Ibarat lampu rambu-rambu lalu lintas (merah-kuning-hijau), pemberantasan korupsi hendaknya tidak menjadi komoditi komunitas tertentu.

Anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR, Fachry Hamzah mengatakan meski pemerintah tengah berjuang memberantas korupsi, tak seharusnya keluhan seperti 'cuci piring' terlontar dari mulut Presiden.

Di saat mulai memanasnya kompetisi menjelang pemilu 2009, kata dia, ungkapan seperti itu justru bisa dianggap sebagai upaya Yudhoyono untuk mendongrak popularitasnya menghadapi pemilihan presiden 2009.

Fachry menyesalkan pernyataan cuci piring yang keluar dari mulut seorang kepala negara. Apalagi hal tersebut diucapkan Presiden menjelang berakhirnya masa jabatan. "Keluhan-keluhan cuci piring itu seharusnya tak boleh keluar, orang akan beranggapan itu sebagai upaya revitalisasi pamor Yudhoyono saja," ujarnya.

Revitalisasi

Ketua Departemen Kepemudaan DPP PDI-P, Budiman Sujatmiko, menilai pernyataan Yudhoyono soal cuci piring menuai kontroversi. Dia menilai banyak kalangan sebagai upaya mencari simpati di tengah kemerosotan pamornya.

"Ini upaya revitaliasi sosok beliau (Yudhoyono) sebagai pembawa pembaruan dalam korupsi," ujarnya.

Terpisah anggota DPR dari Fraksi PAN, Dradjat Wibowo, mengatakan, pernyataan Presiden yang tengah 'mencuci piring' kasus korupsi di masa lalu harus ditindaklajuti dengan langkah-langkah hukum dari Kejaksaan Agung.

''Cuci ini perlu dilanjutkan dengan tindakan yang lebih kongkrit dari pemerintah, karena itu Kejagung perlu menuntaskan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus-kasus BLBI,'' katanya. (di,A20-48)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA