logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 02 Desember 2007 NASIONAL
Line

''Mengapa Tak Diangkut Ambulans?''

KECELAKAAN tragis antara truk militer dan truk pengangkut telur di Jalan Raya Solo-Sragen Km 11, Dukuh Tegalrejo, Masaran, Sragen menambah duka keluarga Ny Mamas Nur Salam (25).

Betapa tidak? Dia kehilangan suaminya, Koptu Nur Salam, anggota Arhanudse 14 Cirebon, karena menderita penyakit tipus. Rencananya, jenazah akan dikebumikan ke Kediri, Jawa Timur. Namun di perjalanan, rombongan mengalami kecelakaan tersebut.

Kedukaan itu semakin dalam karena dalam kecelakaan itu, Alfan (2), putra Ny Masas dan almarhum, turut menjadi salah satu korban meninggal. Alfan meninggal bersama dua korban lainnya.

Sementara Ny Mamas mengalami luka parah dan harus mendapatkan perawatan intensif di ICU RS dr Oen, Kandangsapi, Jebres, Solo.

Sanusi (50), kakak ipar almarhum Koptu Nur Salam, yang tinggal di Junjangwetan, Arjowinangun RT 02/01 Cirebon, Jawa Barat juga menderita luka-luka.

Dia menjalani perawatan di RS yang sama. Dia terlihat merintih kesakitan saat perawat menyuntiknya.

"Saya suntikkan obat penahan nyeri ya, Pak. Biar lukanya tidak terasa sakit. Terus bapak rebahan dan istirahat saja, kan punggung bapak masih sakit," ucap seorang perawat kepada Sanusi. Sambil menahan sakit, Sanusi menurut saja apa yang diminta perawat, lalu menjulurkan lengan kanannya.

Setelah disuntik, ia merebahkan tubuhnya yang terlihat lemah di atas ranjang bersprei putih. Wajah lelah dan tegang nampak jelas saat Suara Merdeka mewawancarainya, Sabtu (1/12). Ia bersedia diajak berbicara, meski ucapannya berkali-kali terhenti karena menahan rasa sakit.

"Saya waktu itu duduk di sebelah kiri Surja (54), dan di samping kanan saya, seorang anggota Arhanudse yang masih muda. Sewaktu tabrakan saya sedang tertidur lelap, setelah bangun tiba-tiba sudah di dalam ambulans. Mungkin saya pingsan terkena benturan benda keras," katanya dengan kalimat terputus-putus.

"Saya bersyukur masih bisa selamat. Kecelakaan itu dahsyat, suara benturannya masih terngiang-ngiang di telinga," katanya. Dia mengaku tidak memiliki firasat apapun sebelum kecelakaan truk pengangkut jenazah adik iparnya dengan truk pengangkut telur.

"Truk besar yang kami tumpangi kondisinya terawat dan tidak mengalami masalah selama di perjalanan. Entah mengapa sesampainya di Sragen terjadi kecelakaan itu," kata dia.

Waswas

Surja (54), kakak laki-laki Ny Mamas (istri almarhum Nur Salam), menuturkan ia sempat gundah saat ikut mengantar jenazah ke Kediri, Jawa Timur. Sorja waswas bukan karena tidak terbiasa bepergian jauh menggunakan truk militer.

Tetapi dia terperangah melihat peti jenazah adik iparnya diikutkan bersama truk rombongan keluarga dan teman almarhum yang mengiringi. "Saat naik truk saya kaget, mengapa jenazah adik ipar saya tidak diangkut menggunakan ambulans. Saya betul-betul tidak mengerti dengan hal itu," kata dia.

Kegelisahan Surja akhirnya terbukti, rombongan memasuki Dukuh Tegalrejo, Kecamatan Masaran, Sragen, sekitar pukul 00.15.

Truk militer yang dikemudikan Pratu Eko Prasojo menghantam truk pengangkut telur dari arah berlawanan. Bahkan satu truk lagi yang juga mengangkut telur menghantam truk telur di depannya.

"Saat kejadian, saya baru saja bangun dari tidur, tiba-tiba terjadi benturan yang amat keras. Saya terpental, tapi beruntung selamat. Saya berusaha menyelamatkan korban lain, termasuk istri saya sendiri, Kaeris (45)," terangnya.(Budi Sarmun Santoso, Anindito AN-60)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA