| Sabtu, 01 Desember 2007 | NASIONAL |
budayaMenelusuri Kesenian Reog (2-Habis)Sudah Ada sejak 760 M di Prasasti Kanjuruhan
MEMANG sulit memastikan, kapan kesenian reog mulai ada. Namun yang jelas, kesenian rakyat ini sudah sangat tua, lebih tua dari berdirinya negeri Malaka. Sebab sudah disebut-sebut dalam prasasti Kerajaan Kanjuruhan (kini Malang) yang bertahun 760 M, yakni pada masa pemerintahan Raja Gajayana. Reog juga tertulis dalam salah satu prasasti Kerajaan Jenggala dan Kediri yang bertahun 1045 (Ensiklopedi Nasional Indonesia). Ada beberapa versi memang mengenai asal-usul reog. Namun intinya sama, yakni sebagai tarian arakan cinta Raja Wengker (kini Ponorogo) yang meminang putri Kilisuci, anak Airlangga, Raja Kediri. Cerita ini berawal dari Prabu Kelono Sewandono, Raja Wengker yang jatuh cinta pada Kilisuci. Kemudian Prabu Kelono Sewandono mengutus Senopati Bujangganong beserta pasukan berkudanya untuk meminang putri Raja Kediri itu. Di tengah jalan, rombongan dari Wengker diadang pasukan Merak dan Harimau yang dipimpin Singobarong, penguasa Alas Ponorogo. Terjadilah perkelahian seru, mengakibatkan Bujangganong beserta pasukannya mundur. Prabu Kelono akhirnya maju sendiri, dan Singobarong pun tunduk untuk kemudian menjadi andahan Raja Wengker itu. Diiringi sorak-sorai, tarian beserta tetabuhan, berangkatlah Prabu Kelono dan Singobarong ke Kediri. Dan tetabuhan yang gegap gempita itulah yang akhirnya menjadi musik iringan tari reog hingga kini. Ciri khas kesenian reog yang beraroma sakral dan mistis, sebenarnya bukan cuma tercermin dari bentuk Singobarong dengan dadak meraknya. Namun yang lebih terasa lagi adalah irama musik pengiringnya. Irama melodi reog memang terasa aneh. Sebab merupakan perpaduan antara nada pentatonis (slendro) dan diatonis (pelog). Ini mungkin merupakan satu-satunya jenis musik paling aneh di dunia. Nada pelog keluar dari terompet (salompret) yang menggema di antara perpaduan gendang, ketipung, ketuk-kenong, kempul, dan gong yang bernada slendro. Nada-nada sumbang yang dihasilkan merupakan perpaduan laras pelog dan slendro, yang menghasilkan suasana mistis, aneh, sekaligus memesona. Iramanya yang dinamis dan menggelora berpotensi untuk mengundang penonton berkerumun. Bentuk topeng reog dadak merak yang menakutkan, beserta para peraga lainnya yang tergolong aneh, ditambah dengan gegap-gempitanya musik berirama sembret di antara barisan para warok, menjadikan pertunjukan reog nampak angker, wingit, dan penuh aroma mistis. Namun, justru aroma seperti itulah yang membuat seni reog nampak berwibawa dan indah. Irama musik reog memang sangat menggetarkan, semeriah suara tambur dan simbal pada iringan tarian liong atau barongsai asal China yang menjamur di negeri kita ini. Tapi kita tidak pernah memelencengkan cerita liong dengan, misal, perjuangan Ki Ageng Sela dalam menangkap petir, atau pertarungan Simalodra vs Lawa Ijo saat memperebutkan keris Nagasasra-Sabuk Inten. Maka kita terkejut ketika Nabi Sulaiman dikait-kaitkan dengan seni barongan (tarian seperti reog di Malaysia). (Djito Patiatmodjo-62) | ||||