| Jumat, 30 Nopember 2007 | NASIONAL |
Din Minta Izin, Akbar Lihat SituasiJAKARTA- Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin akan meminta izin terlebih dulu kepada seluruh pimpinan Muhammadiyah, jika dicalonkan partai politik untuk maju sebagai cawapres. ''Saya akan tanya pimpinan Muhammadiyah se-Indonesia. Apa mereka setuju atau tidak,'' kata Din usai Deklarasi Nasional Tokoh Agama dan Adat bertema Bersatu Mengatasi Perubahan Iklim di PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Kamis (29/11). Hadir pada kesempatan itu sejumlah tokoh agama, antara lain, KH Ali Maschan Musa (PWNU Jatim), Pendeta IWJ Hendrik (PGI), Romo Ismartono (KWI), Rusli (Walubi), dan I Made Gde Erata (PHDI). Sedangkan tokoh adat, Priyaldi (Minang), Adjim Arijadi (Banjar), Kasim Badul Rahman (Dayak), Jaro Dainah (Baduy), Leonard Imbiri (Papua), M Toyyibi (Jawa), Solahur Robban (Madura), Zulkifar Sawang (NAD) dan Al-Azhar (Melayu). Seperti diberitakan sebelumnya, mantan ketua umum PP Muhammadiyah Amien Rais menyatakan setuju duet Din dengan Ketua Umum DPP PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2009. Namun Din juga akan mengukur diri terlebih dahulu, apakah pantas atau tidak mengisi jabatan tersebut. Kemudian melakukan kalkulasi politik. Sementara itu mantan ketua umum Partai Golkar Akbar Tandjung yang disebut-sebut bakal mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), secara terpisah di Jakarta mengatakan tidak ada usaha melakukan pendekatan terkait hasil survei yang memasang dirinya dengan capres incumbent itu. Menurutnya, hasil survei sewaktu-waktu bisa berubah hingga pemilu. ''Saya masih melihat situasi,'' kata Akbar di Jakarta Convention Center. Seperti diketahui, hasil survei Lembaga Kajian dan Survei Nusantara (Laksnu) belum lama ini menempatkan Akbar Tandjung terpilih masuk dalam jajaran capres Indonesia pada Pemilu 2009, selain Presiden Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Wiranto, Jusuf Kalla, Amien Rais, Hidayat Nurwahid dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Hasil survei juga menunjukkan pasangan capres dan cawapres pilihan yang mendapat dukungan terbanyak yaitu pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Akbar Tandjung sebesar 33,7%, mengungguli pasangan Megawati-Din (31,8%). ''Itu survei yang enam bulan ke depan bisa saja ada perubahan-perubahan,'' kata Akbar. Akbar mengatakan, survei yang memasang dirinya dengan Presiden Yudhoyono mendapat perhatian dari orang-orang terdekatnya. Akbar mengatakan dirinya kini fokus pada Partai Golkar yang pada Rapimnas III 2007 memutuskan bahwa penjaringan capres tidak lagi menggunakan sistem konvensi, tetapi melalui survei. ''Saya harapkan penjaringan capres bisa dilakukan dengan konvensi. Kalau konvensi, Insya Allah saya akan ikut,'' katanya.(di-48) |