logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Menelusuri Kesenian Reog (1)

Lahir di Ponorogo, Coba Diklaim Tetangga

Untuk kesekian kalinya Indonesia terlibat saling klaim soal kesenian dengan Malaysia. Kali ini tentang kesenian reog. Wartawan Suara Merdeka Djito Patiatmodjo mengupas asal usul seni reog itu.

REOG, sebuah grup kesenian asli Ponorogo, ternyata mencuatkan berbagai fenomena, baik dari sisi seni, budaya, komunitas, perilaku hingga yang merebak belakangan ini, politik bilateral.

Gara-gara seni reog, hubungan antara masyarakat Indonesia dan Malaysia menjadi gerah, karena lagi-lagi Negeri Jiran itu mengklaim bahwa seni reog yang dikenal sebagai Tari Barongan adalah asli milik nenek moyang mereka.

Tari Barongan memang ada di berbagai negara, dengan berbagai bentuk dan latar budayanya masing-masing, seperi yang ada di daratan Asia Timur, khususnya Tiongkok dengan Barongsainya.

Di Indonesia, jenis tarian Barongan juga dikenal di berbagai daerah. Di Jawa Tengah ada barongan, di Jawa Barat ada Tari Sisingaan dan sebagainya.

Namun yang disebut Malaysia sebagai Tari Barongan sungguh tak ada bedanya dengan reog yang notabene adalah kesenian asli Ponorogo (Jatim), yakni tari yang bersentral pada properti Singobarong, sebuah topeng besar berwujud kepala singa dengan mahkota dadak merak di atasnya. Dilengkapi pula dengan lawan Singobarong, seorang kesatria bertampang raksasa kerdil bernama Bujangganong, dimeriahkan oleh para penunggang kuda lumping dan penari topeng.

Instrumen yang digunakan juga tak melenceng jauh dari reog, yakni kenong, kempul, gong, angklung, gendang dan terompet. Bedanya, cara memainkannya memang bagi orang-orang Malaysia terkesan asal bunyi dan rampak. Sedangkan di Reog Ponorogo, punya irama pakem yang belakangan ini banyak mengalami modifikasi lagu, sesuai dengan perkembangan kesenian itu sendiri.

Dikaitkan Nabi Sulaiman

Persoalan yang membuat orang tercengang justru latar belakang yang mendasari lahirnya Tari Barongan ala Malaysia itu. Dalam 'okezone' www.heritage.gov.my yang merupakan situs Departemen Pariwisata Malayasia disebutkan, Tari Barongan yang di atasnya bertengger dadak merak itu adalah sebagai budaya asli Malaya. Dikait-kaitkan pula dengan kisah dari zaman Nabi Sulaiman. Kesenian ini konon berkembang di daerah Batu Pahat Johor, Negeri Selangor.

Dari situ kelihatan sekali bahwa negeri tetanggga kita itu sudah tidak jujur. Mereka mengada-ada dan mengarang cerita, demi melegitimasi reog sebagai seni tradisi asli negeri itu. Sementara Dubes Malaysia Dato Zainal Abidin Zain menegaskan, sebagai bangsa serumpun, memang budaya kedua bangsa ini tidak terlalu berbeda jauh.

Di sisi lain, beberapa TKI asal Ponorogo mengaku, mereka sering mementaskan reog asal daerahnya pada acara-acara hajatan di Malaysia, seperti hari kemerdekaan dan sebagainya. ''Kami bahkan beberapa kali dipesan untuk membuatkan reog, lengkap dengan dadak meraknya,'' ujar Sutarman, mantan TKI di Malaysia asal Ponorogo.

Kalau asal-usul seni reog sudah jelas, mengapa Malaysia harus mengingkari? ''Kami ingin Malaysia meluruskan pengakuannya, bahwa seni reog yang berkembang di sana adalah asli milik Bangsa Indonesia. Kami tak ingin bangsa kita ini diremehkan,'' ujar Ketua Paguyuban Reog Indonesia (PRI) H Begug Pornomosidi yang juga warok bergelar Kanjeng Pangeran Candrakusuma Ki Ageng Andana Warih. Di negeri ini, khususnya di daerah Ponorogo, kesenian reog terkait erat dengan legenda/sejarah daerah itu yang sudah mendarah daging, yakni petilan perang hebat antara Senopati Bujangganong dengan Begal Singobarong. (46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA