logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Kasus Penculikan Lovita

"Kok Tega Menculik Anak Saya..."

SETIAP keluarga tentu akan selalu menjaga anggotanya. Bahkan saling menyayangi. Tapi sepertinya itu tidak dirasakan bagi Warsani (30) dan istriya Yulyanti (29). Lovita Riska Ananda (6), buah hatinya, justru diculik salah seorang saudaranya Nurhayati (35). Masalahnya klasik, soal rumah tangga dan uang.

Suasana keluarga tidak aman. Sebab sudah tujuh hari sejak diculik suami-istri itu, waswas dengan nasib anak yang belum kunjung ditemukan. Warga Desa Randusanga Wetan RT 03 RW 01, Kecamatan/Kabupaten Brebes mengenal keluarga Warsani dan saudara-saudaranya adalah keluarga harmonis. Dengan kejadian itu tentu saja warga geger. Apalagi dugaan kuat penculik Lovita, bocah kelas 6 SD Randusanga Wetan 02 Sabtu (19/11) lalu itu, masih saudara.

Tidak Percaya

Mereka seolah tidak percaya, seorang yang biasa bercengkrama, makan bersama keluarga korban, jadi pelaku penculikan. "Katanya keluarga sendiri, tapi kok tega menculik anak saya. Itu keluarga apaan," kekecewaan Warsani terlontar kesal dengan sikap Nurhayati.

Dia kini sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Mana mungkin bisa memenuhi tuntutan penculik memberi uang tebusan Rp 10 juta. Saat jual beli tanah miliknya dengan penculik, ia memang berharap mendapat Rp 15 juta. Tapi baru dapat Rp 10 juta dari transaksi dengan penculik, justru habis buat mencari-cari Lovita.

Kejadian itu berawal ketika Warsani menjual tanah pekarangan kepada pelaku, Nurhayati. Pembeli itu baru memberikan Rp 10 juta dari Rp 15 juta yang disepakati. Namun wanita itu sudah meminta akta tanah.

Namun, permintaan itu ditolak Warsani. Nurhayati diminta melunasi dulu kekurangannya, Rp 5 juta. Tapi bukannya melunasi, malah menculik anak Warsani dan meminta uang Rp 10 juta dikembalikan.

Ya, sejak anaknya diculik, sudah banyak tempat ia datangi demi menemukan Lovita. Biayanya mencari tidak sedikit. Anehnya penculik justru tega mengancam menjual Lovita. "Kalau ia mengaku saudara, tentu menyakiti Lovita saja tak berani. Apalagi menjualnya," harapan Yulyanti pada saudaranya tidak menjual anak pertama dari dua anaknya itu.

Bagi mereka Lovita adalah anak yang cerdas dan lucu. Keberadannya sehari-hari dapat memberi suasana hangat karena keceriaannya. Memberi semangat untuk mengais kehidupan sebagai buruh serabutan di tambak.

Tidak cuma di rumah, di sekolah pun teman-teman dan gurunya merasa kehilangan Lovita. "Dia anak yang pintar, menggemeskan karena lucu..," tutur Purpaningsih, salah seorang gurunya di SD Randusanga Wetan 2.

Persoalan yang semula masalah keluarga pun akhirnya menjadi tugas polisi untuk menyelesaikannya. Karena khawatir keselamatan sang anak, Warsani melaporkannya ke pihak berwajib. Namun hingga kini keberadaan Lovita belum ditemukan.

Sementara penculik dengan percaya diri sesekali menghubungi keluarga korban. Menagih uang tebusan Rp 10 juta yang dimintanya. Mereka berharap keakraban keluarga dengan penculik sebelum kejadian ini, dapat menggugah hati Nurhayati untuk membawa pulang Lovita. Bahkan mereka bersedia membayar Rp 10 juta, yang penting dapat bersama dan memeluk kembali anaknya. (Muhammad Abduh-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA