logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 26 Nopember 2007 SALA
Line

Pasar Triwindu di Tengah Geger Radya Pustaka (1)

Dari Sini Gamelan Keraton Hilang Ditemukan

  • Oleh : Subakti A Sidik

Pasar barang antik Triwindu Solo, beberapa hari terakhir ini banyak dikunjungi orang. Pembelinya juga dari mancanegara. Apakah ini ada kaitannya dengan geger Museum Radya Pustaka (RP), yang telah kehilangan sejumlah barang koleksi? Berikut laporannya.

BEBERAPA hari terakhir ini Pasar barang antik Triwindu Solo banyak dikunjungi orang. Hal ini menyenangkan para pedagang, meskipun mereka yang datang itu tak semua membeli. ''Ya lumayan yang datang, tapi yang membeli tidak begitu banyak,'' ujar Ny Pitut, salah seorang pedagang.

Meningkatnya kunjungan ini sedikit mengobati kesedihan pedagang karena selama beberapa bulan terakhir kondisi pasar lesu.

Pasar ramai biasanya pada musim liburan di luar negeri, pada bulan Juli dan akhir tahun. Pedagang mengakui, sebagian yang datang mungkin karena pengaruh mencuatnya kasus Museum RP yang telah kehilangan barang koleksi.

Gencarnya pemberitaan di media massa baik cetak maupun elektronik, mendorong orang mengunjungi tempat ini. Tetapi sesungguhnya, tak ada kaitan sama sekali hal itu dengan kasus museum tersebut. Di sini memang banyak dijual arca, baik yang terbuat dari batu, perunggu, kuningan, tembaga , maupun terakota.

Ada arca Budha, gajah, kodok berpayung, dan Bethari Durga. Ada pula piring -piring dan gelas antik serta lampu gantung kuno serta lukisan - lukisan terkenal.

Tetapi barang-barang itu umumnya tiruan (copy). Arca batu misalnya, banyak didatangkan dari Trowulan, Mojokerto, Jatim dan Muntilan, Magelang. Arca produksi Trowulan lebih banyak disukai karena lebih mendekati aslinya. ''Barang dari Trowulan asli pahat, sedang dari Muntilan banyak diselep,'' ujar seorang pedagang.

Meskipun banyak yang tiruan, namun ada juga barang kuno yang benar-benar asli. Celakanya, tidak semua pedagang mengetahui barang kuno itu punya nilai tinggi.

Yang tahu justru kolektor yang membeli. Karena tak tahu barang itu bernilai tinggi, barang dijual relatif murah.

Suatu ketika, pedagang membeli barang kuno berupa gamelan. Barang dibeli dengan hitungan kiloan. Ternyata barang itu milik Keraton Surakarta. (50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA