logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 26 Nopember 2007 SALA
Line

Konversi Minyak Tanah ke Gas Disambut Dingin

SRAGEN-Sosialisasi rencana konversi minyak tanah ke gas di pendapa rumah dinas bupati, Sabtu (24/11) kurang direspons. Ratusan lurah dan beberapa camat yang dihadirkan tampak kurang antusias dalam kegiatan sosialisasi itu.

Persoalannya, masyarakat di pedesaan banyak yang belum paham menggunakan kompor gas. Mereka masih terbiasa menggunakan kompor minyak.

Namun di sisi lain Bupati Untung Wiyono menyatakan, pihaknya siap mendukung konversi itu. Hanya dia berharap, jika masyarakat bisa menerima sebaiknya harga gas tidak dinaikkan.

''Harus ada komitmen, jika masyarakat sudah bisa menerima pemakaian gas, harganya jangan dinaikkan,'' kata Untung Wiyono saat menyambut tim sosialisasi dari PT Pertamina.

Hadir Wakil Ketua DPRD Retno Wahyuningsih SE, Kusnindar Manajer Regional III Gas Domestik Semarang, R Totok Sugiharto Sales Representatif LPG Jateng - DI Yogyakarta, dan Nana S Kepala Administrasi Penjualan Region III Jateng dan DI Yogyakarta, serta Kepala Indagkop Drs Joko Purwanto.

Acara itu tidak diisi dengan penyerahan secara simbolis tabung gas kepada masyarakat. Diduga ada yang khawatir terjadi penolakan seperti dilakukan Wakil Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo.

Menurut Joko Purwanto, sosialisasi dilakukan agar masyarakat bisa memahami pemakaian gas dan tidak ada gejolak.

Bantu Tabung

Totok Sugiharto mengatakan, Pertamina akan membantu 80.000 tabung gas 3 kiloan untuk tahap pertama. Jika belum mencukupi, dia akan meminta tambahan.

''Jumlah itu belum fnal, jika kurang ada tambahan lagi,'' tutur R Totok. Dijadwalkan, April 2008 ribuan tabung gas sudah dibagikan. Selanjutnya agen minyak tanah yang selama ini beroperasi, kelak menjadi agen penyuplai gas.

Totok berharap lurah dan camat menyampaikan kepada masyarakat di pelosok pedesaan. Bupati mengatakan, lurah jangan menakut-nakuti kompor gas bisa meledak.

Sebaliknya lurah justru harus menjelaskan faktor keamanannya, jika gas mengalami kebocoran. Tindakan apa yang mesti dilakukan, itu tanggung jawab lurah untuk memberikan penyuluhan.

Di antara ratusan lurah yang hadir, ternyata masih banyak yang belum menggunakan kompor gas. Mereka masih menggunakan kompor minyak.

''Nanti kita belajar bareng-bareng, wong saya juga belum menggunakan kompor gas,'' tutur seorang lurah dari Kecamatan Kedawung. (nin-63)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA