| Senin, 26 Nopember 2007 | WACANA |
Pohon untuk Kehidupan
Renungan yang patut diketengahkan pada momentum peringatan Hari Pohon (21 November) adalah bagaimana kita mampu membudayakan menanam pohon sejak dini untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Terlebih dengan merebaknya isu aktual pemanasan global (global warning) yang menghantui masyarakat. Salah satunya hal itu disebabkan oleh maraknya penebangan hutan dan kurang gencarnya upaya penghijauan kembali. Di negeri kita, beberapa data menunjukkan suhu rata-rata tahunan mengalami peningkatan 0,3 derajat celcius sejak 1990. Sementara itu, menurut temuan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) -lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia-, pada 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,7 derajat celcius. Kondisi itu diprediksi bakal menimbulkan sejumlah dampak. Pertama, musim hujan datang lebih lambat, lebih singkat, namun curah hujan lebih intensif sehingga meningkatkan risiko banjir. Pada 2080, diperkirakan sebagian Sumatra dan Kalimantan menjadi 10-30% lebih basah pada musim hujan; sedangkan Jawa dan Bali 15% lebih kering. Perubahan pada kadar penguapan air dan kelembaban tanah akan berdampak kepada sektor pertanian dan ketahanan pangan. Kedua, perubahan iklim akan menurunkan kesuburan tanah sekitar 2-8%, diperkirakan akan mengurangi panen padi sekitar 4% per tahun, kacang kedelai sekitar 10%, dan jagung sekitar 50%. Ketiga, ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30%. Secara general dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan. Selain itu, juga makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (El Nino) di seluruh dunia, serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Tegasnya, pemanasan global dapat berakibat meningkatkan bencana dan kemiskinan. Makin Dirasakan Di Indonesia, gejala pemanasan global tersebut makin dirasakan masyarakat berupa pergeseran musim dalam dua tahun terakhir. Bahkan menurut para ahli, keadaan tersebut menyebabkan kian panasnya suhu permukaan di wilayah Katulistiwa dan bergesernya curah hujan ke bagian utara Katulistiwa. Kondisi tersebut akan berpengaruh kepada kehidupan manusia, hewan, dan tanaman. Sebaiknya gejala tersebut dijadikan peringatan dini bagi perkembangan kehidupan manusia dan pertanian di Indonesia. Selama 100 tahun terakhir, paras muka air laut (sea level rise/SLR) naik satu meter, suhu permukaan bumi naik satu derajat celcius. Maka menjadi tak aneh, ketika ribuan pakar dunia mengabarkan betapa cepatnya SLR naik. Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP-DKP), Prof Indroyono Soesilo, pernah mengatakan, setiap kenaikan temperatur bumi satu derajat celcius, maka SLR naik satu meter. Jika kondisi itu terus berlanjut, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir akan tergusur. Menanggapi naiknya paras muka air laut itu, Meneg Lingkungan Hidup, Rahmad Witoelar, beberapa waktu lalu mengemukakan, jika kondisi itu terus berlangsung bukan tidak mungkin pada 2030-an sekitar 2.000 pulau milik Indonesia tenggelam. Sekadar berhitung, dengan asumsi rata-rata kelandaian pantai di Indonesia sebesar 2%, maka setiap kenaikan permukaan air laut setinggi satu meter akan mengakibatkan tergenangnya wilayah pesisir pantai sepanjang 50 meter ke arah daratan. Jika total garis pantai Indonesia sepanjang 81.000 km, maka dalam waktu 100 tahun ke depan wilayah yang akan tergenang bisa mencapai 405.000 ha, atau 4.050 ha/tahun. Dengan demikian, akibat pemanasan global hutan mangrove pun terancam punah. Fakta-fakta tersebut patut diwaspadai. Jika benar terjadi, tentu dampaknya niscaya menimbulkan kerugian ekonomi yang relatif besar. Pasalnya, letak sebagian besar kota-kota yang menjadi pusat industri justru berada di sepanjang pantai. Bukan hanya itu, wilayah pesisir itu juga umumnya menampung 60% dari total penduduk yang ada di Tanah Air. Implikasinya, bisa memicu kemiskinan dan kerawanan pangan. Menurut estimasi versi Bank Dunia, jumlah penduduk miskin (dengan pendapatan kurang dari dua dolar AS per hari) negeri kita mencapai 70 juta jiwa. Sementara itu menurut Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Maret 2007 tercatat 37,17 juta jiwa atau 16,58% total penduduk Indonesia. Dengan demikian, pemerintah masih memiliki tantangan besar dalam mewujudkan butir pertama Millenium Development Goals (MDGs) yang ingin dicapai pada 2015, yaitu pemberantasan kemiskinan dan kelaparan. Indonesia Menanam Menyimak kondisi degradasi sumber daya hutan yang kian mengkhawatirkan itu, maka program "Indonesia Menanam" perlu diwujudkan. Di antaranya, menggalakkan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL/Gerhan) sejak 3003, serta Gerakan KMDM (Kecil Menanam, Dewasa Memanen). Selain itu juga perlu menyukseskan program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) sebagai exit strategy meningkatkan partisipasi, sekaligus modal (cultural capital) dan kekuatan budaya (cultural power) yang menggerakkan dinamika masyarakat menyelamatkan hutan. Sudah saatnya komitmen stakeholders untuk benar-benar kembali kepada alam harus terus diwujudkan dalam setiap gerak langkah. Pasalnya, dengan membiasakan menanam pohon dan mereboisasi hutan sekaligus, juga akan membangun perilaku budaya masyarakat kehutanan. Simpulannya, kerja keras dan konsisten dalam menyukseskan gerakan menanam pohon bakal berhasil manakala segenap stakeholders dapat menjalankan apa yang telah menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Pada gilirannya, upaya mendorong tumbuhnya budaya menanam pohon harus didukung political will bagaimana mengembalikan ekosistem menjadi lebih harmonis dan humanis menuju kehidupan yang berkualitas.(68) - Agus Wariyanto, kepala Bidang Agribisnis pada Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (BBMKP) Jawa Tengah. |