| Senin, 26 Nopember 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANA"Kreativitas Kejahatan" dalam Skandal Radya PustakaPencurian arca dan benda-benda penanda sejarah di Museum Radya Pustaka Solo patut dikategorikan sebagai "kreativitas kejahatan", ketika modus pemboyongan dan upaya pengelabuhan oleh kelompok pencurinya dilakukan dengan sebuah "perhitungan". Namun kalkulasi kreativitas itu tetap saja membentur realitas fiolosofis bahwa kejanggalan yang ditemukan oleh para ahli akan membuka kedok yang ditutupkan, sekreatif apa pun. Kita mencatat, modus pencurian itu juga ditopang oleh kekuatan jaringan, terlepas apakah kinerja kelompok tersebut terlihat amatiran atau menunjukkan kerapian pola dan sistematika. "Kreativitas kejahatan", dalam dinamika kriminalitas menjawab kenyataan betapa tindakan penyimpangan secara kuantitatif maupun kualitatif bergerak seperti deret ukur, sedangkan teknik-teknik pencegahan dan penanggulangannya mirip deret hitung. Dalam konteks kejahatan menyangkut benda-benda bersejarah, walaupun sesungguhnya bermuatan sejumlah motif, yang sangat kita rasakan sekarang adalah makin melunturnya sikap dan apresiasi untuk menghargai karya anak-anak bangsa pada masa lalu, yang hakikatnya merupakan penanda sejarah dalam pergerakan hidup dan kehidupan manusia Indonesia. Mengapa harus mengoleksi secara pribadi benda-benda bersejarah nasional yang mestinya lebih tepat dikelola oleh sebuah badan dan menjadi milik negara? Mengapa harus memalsukan arca-arca dan memindahkan yang asli secara diam-diam dengan imbalan uang, kalau bukan untuk tujuan yang menyimpang? Alasan-alasan seidealis apa pun, bagi kita, tetap tidak bisa diterima. Perbuatan memboyong dan memalsukan benda milik museum merupakan pengkhianatan terhadap jejak sejarah, yang secara langsung akan menghalangi generasi mendatang atas hak-hak akses sejarah mereka. Sejarah juga merekam kultur apresiasi terhadap benda-benda pusaka yang mewujud ke dalam berbagai mitos. Misalnya sikap terhadap keris, tombak, bende, simbol-simbol kekuasaan seperti payung, kuluk (mahkota), kereta kuda, perangkat gamelan, dan semacamnya. Ada yang memercayainya sebagai sipat kandel, simbol pulung kraton, hingga makna pengayoman terhadap rakyat. Mitos-mitos pencurian benda pusaka yang disimpan di dalam gedung perbendaharaan istana pun sering diangkat lewat berbagai ceritera rakyat. Itu menunjukkan posisi strategis benda pusaka, mitos, dan kekuasaan. Jejak sejarah, dalam dinamika sosial-politik-ekonomi sekarang, sebagian berada di tangan mereka yang memiliki akses dan kekuatan uang. Atau katakanlah, sejumlah penanda sejarah ada di tangan kolektor. Skandal Radya Pustaka membuka kesadaran tentang kemungkinan itu bukan peristiwa pertama. Pemerintah patut tergugah menjadikan momentum ini untuk melakukan langkah-langkah cepat dan taktis menyelamatkan potensi semua museum di Tanah Air. Inventarisasi benda-benda bersejarah simpanan semua museum dilakukan sebagai tindakan pertama dan segera diumumkan kepada publik. Mengapa Radya Pustaka mengalami perjalanan sejarah dengan noda kejahatan? Kita menyimpulkan, ada sikap abai, lalai, dan kesadaran yang lemah mengenai pentingnya museum dan isinya. Juga sikap-sikap menyimpang dari semua orang yang terlibat, sehingga memilih jalan culas pilihan mereka sendiri. Polisi perlu mengungkap secara tegas motifnya. Apa pun justifikasi yang disampaikan, bukankah semua sudah jelas, yakni sejumlah koleksi museum hilang kemudian kembali ditemukan? Perjalanan "kreativitas" kasus tersebut sangatlah gamblang, yang semuanya patut dijadikan terapi pengamanan di kemudian hari. |