| Senin, 26 Nopember 2007 | NASIONAL |
KERAJINANMeniru Arca Asli, Bagaimana Caranya (2-Habis)Teknik "Kubur" Butuh Satu Tahun
MUDAH. Begitulah kira-kira. Bagi pemahat dan pemilik galeri kerajinan batu di Kabupaten Magelang memproses arca menjadi kuno bukan pekerjaan baru. Itu tidak sulit. Mereka bisa menggunakam beragam teknik, tergantung keinginan pemesannya. Mulai dari sekadar memoles dengan ramuan seperti mengecat, membakar hingga teknik mengubur yang butuh waktu satu tahunan. Sebenarnya membuat arca berkesan kuno itu kini tidak lagi ngetren. Booming pesanan justru terjadi tahun 1995-2000. Saat itu kebanyakan pemesannya dari luar negeri. Namun sayang, kepiawaian para seniman itu justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. Salah satunya, digunakan untuk mengganti arca asli di Meseum Radya Pustaka Surakarta. Menurut Wahyon (50), pemahat dan pemilik salah satu galeri di Muntilan, jika benar arca palsu yang digunakan para pencuri itu berasal dari Magelang, berarti keberadaan seniman dimanfaatkan untuk kepentingan yang bertentangan dengan hukum. "Jujur dari lubuk hati yang paling dalam kami membuat seperti itu untuk melayani para pembeli yang menyukai model arca kuno dan klasik," katanya. Dia menceritakan, pemesan patung kuno paling banyak dari luar negeri, antara lain Australia, Jepang, China dan Amerika. Teknik Mengubur Untuk membuat kesan kuno pada patung dan arca buatannya, menggunakan bahan-bahan yang hampir sama seperti yang dilakukan para seniman lainnya. Namun dia masih mencampurnya dengan ramuan khusus dan tekniknya pun agak berbeda. Selain teh, kunyit, gambir dan tanah liat, dia juga menggunakan air accu. Sedangkan untuk memprosesnya dia memilih dengan cara membakar atau mengubur arca di dalam tanah. Setelah arca itu dipahat sesuai dengan pesanan, baru dilakukan proses penuaan batu. Kali pertama menggunakan air accu untuk memperbesar pori-pori patung. Jika pemesan menghendaki patungnya patah atau tak utuh lagi, dia juga memukul arca sampai cuwil bahkan hancur menjadi beberapa bagian. Setelah pori-pori membesar dan permukaan arca tak rata atau cuwil, barulah dia melakukan proses penuaan. Berbagai hahan, seperti teh, gambir, kunyit dan tanah liat itu dicampur, dioleskan keseluruh permukaan arca, lalu dibakar dengan dengan kayu. Teknik lainnya, dengan cara mengubur arca di dalam tanah. Seusai dilumuri ramuan lalu dikubur sampai satu tahun lebih. Menurutnya, teknik yang satu ini cukup jitu namun memerlukan waktu agak lama. (Sholahuddin al-Ahmed-77) | ||||