| Senin, 26 Nopember 2007 | INTERNASIONAL |
10.000 Etnis India Demo di Kuala LumpurKUALA LUMPUR - Komunitas etnis India di Malaysia menggelar protes terbesar menentang pemerintah Minggu kemarin. Lebih dari 10.000 demonstran turun ke jalan. Namun, aksi mereka dibubarkan polisi dengan tembakan gas pemedih mata dan meriam air. Para demonstran mengecam sikap pemerintah yang menurut mereka rasialis. Protes itu merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah menjelang pemilu yang kemungkinan akan digelar dua bulan lagi. Warga etnis India dari seluruh negeri berbondong-bondong ke Kuala Lumpur kendati polisi telah memperingatkan warga untuk tidak terlibat dalam aksi protes. ''Warga keturunan India belum pernah berkumpul dalam jumlah sebesar ini sebelumnya,'' kata P Uthaya Kumar dari kelompok Hindu Rights Action Force (Hindraf), pemrakarsa unjuk rasa. ''Mereka frustrasi dan tidak bisa bekerja di pemerintahan ataupun di sektor swasta. Mereka tidak diberi izin usaha atau tempat di universitas,'' kata dia. Warga keturunan India juga tidak nyaman dengan tindakan penggusuran beberapa kuil Hindu. Persoalan Berat Polisi antihuru-hara menembakkan gas pemedih mata dan meriam air ke arah demonstran. Aksi unjuk rasa baru bisa dikendalikan lima jam kemudian. Polisi berjuang keras membubarkan demonstran dari jalan-jalan di pusat kota Kuala Lumpur. Populasi etnis India sekitar tujuh persen dari total penduduk Malaysia. Kolumnis politik Zainon Ahmad mengatakan, protes itu bakal mengguncang partai komunitas India. Malaysian Indian Congres (MIC), yang termasuk dalam koalisi berkuasa. ''MIC menghadapi persoalan berat setelah demonstrasi ini,'' kata dia. Namun, Ketua MIC S Samy Vellu membantah pendapat itu. ''Kami mewakili komunitas India dan akan tetap seperti itu,'' kata dia. Vellu sendiri pernah menyuarakan ketidaksenangannya atas penggusuran kuil-kuil Hindu di kawasan ibu kota. ''Masih banyak yang harus dilakukan untuk warga etnis India dan kami akan terus berjuang,'' tambahnya. Para demonstran mengeluhkan minumnya kesempatan di bidang pendidikan dan usaja. Menurut mereka, kebijakan pemerintah lebih mendukung etnis Melayu dan memarjinalkan mereka.(rtr-gn-25) |