| Senin, 26 Nopember 2007 | EKONOMI |
PREDIKSI SAHAMIHSG Berpeluang NaikJAKARTA-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada pekan ini berpeluang menguat, setelah pekan sebelumnya banyak yang melepas untuk merealisasikan keuntungan. "Setelah mengalami tekanan jual, indeks BEJ berpeluang untuk naik," kata Analis Riset PT BNI Securities M Alfatih di Jakarta, kemarin. Menurut Fatih, kenaikan indeks diperkirakan masih pada kisaran level 2.600. Sentimen yang bisa mendorong indeks BEJ adalah mulai positifnya saham Indosat (ISAT) yang terdorong hasil kinerja pada sembilan bulan pertama membaik. "Sebelumnya ISAT menjadi sentimen negatif atas keputusan KPPU (Komite Pengawasan Persaingan Usaha) yang menyatakan bersalah kepada Temasek, namun kemudian terimbangi dengan kinerjanya yang membaik dan adanya rumor kalau Temasek mau melepas saham ISAT, harganya akan dinaikkan dulu." (ant-59) Rupiah Berkisar Rp 9.300-Rp 9.400JAKARTA-Kurs rupiah terhadap dolar AS pada pekan ini diperkirakan berada dalam kisaran antara Rp 9.300 sampai Rp 9.400 per dolar AS, karena bank sentral Indonesia (BI) berusaha menahan kemerosotannya. ''Upaya bank sentral masuk ke pasar agar rupiah tidak merosot melewati angka batas psikologis Rp 9.400 per dolar AS tercapai pekan lalu, " kata Analis Valas PT Bank Saudara, Rully Nova di Jakarta, kemarin. Menurut dia, apabila rupiah terus terpuruk hingga melewati angka batas psikologis Rp 9.400 per dolar AS dinilai sangat riskan, karena kemungkinan mata uang lokal itu akan terus merosot. "Kami optimis pemerintah akan terus mengamati pergerakan mata uang lokal itu di pasar domestik dan menjauhi level Rp 9.400 per dolar AS," katanya. Rupiah, lanjut dia, merupakan mata uang yang "anomali". Di saat dolar AS di pasar uang merosot terhadap mata uang utama Asia bahkan terhadap euro sudah mencapai 1,49, namun terhadap rupiah mampu menguat. Seharusnya mata uang rupiah yang menguat, apalagi bank sentral AS (The Fed) berencana untuk menurunkan lagi suku bunganya," ucapnya. Meski demikian, menurut dia, faktor utama merosotnya rupiah kemungkinan tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat mencapai 99 dolar AS per barel dan adanya pandangan masyarakat memegang dolar AS lebih aman ketimbang rupiah. (ant-59) |