| Senin, 26 Nopember 2007 | EKONOMI |
Biaya Transpor Beratkan Industri MakananSOLO-Industri pangan baik berupa bahan mentah maupun makanan olahan masih terkendala banyak hal. Selain kenaikan harga BBM industri, beberapa komoditi lain seperti gandum dan CPO juga mengalami kenaikan. Akibatnya, ongkos transpor dan produksi pun naik. Demikian diungkapkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Minuman (Gapmmi) Thomas Darmawan kepada Suara Merdeka usai Lokakarya wartawan di Hotel Lor-In Solo, akhir pekan lalu. ''Di Indonesia, ongkos transport pengiriman barang sangat mahal dan tidak efisien. Truk angkut yang mengirim barang harus kembali dengan keadaan kosong. Padahal kalau truk itu bisa diisi dengan barang lagi waktu kembali kan jadi efisien,'' ungkapnya. Keprihatinannya juga mengarah pada produk-produk pertanian dan peternakan yang seringkali harus bersaing dengan produk impor. Ia mencontohkan, pengiriman produk pertanian seperti kentang dari Jakarta menuju Surabaya berkisar Rp 1,5 juta dengan berat muatan 7,5 ton. Artinya, setiap kilogram menanggung beban ongkos Rp 250. Bahkan, menurut Thomas, ongkos transportasi bisa mencapai hampir 90 persen dari harga produk pertanian belum lagi pungutan resmi dan tidak resmi yang mencapai sekitar 40 pungutan. Akibatnya, harganya pun menjadi mahal ketika sampai di tangan konsumen. ''Sayangnya, produk pertanian kan tidak mempunyai nilai jual yang tinggi, berbeda dengan produk-produk lain. Kalau harus meminta kebijakan agar ongkos transport produk pertanian lebih murah, sulit,'' jelasnya. Ia menyarankan, produk pertanian tidak dikirim dalam bentuk mentah tapi diolah menjadi produk agroindustri berupa makanan olahan. Hal itu harus digiatkan dalam industri kecil berupa waralaba sehingga bisa bersaing dengan produk lain termasuk produk-produk makanan impor. Begitu juga halnya dengan produk perternakan yang hingga kini mengalami kondisi dilematis. Kurangnya ternak sapi maupun ayam dalam negeri membuat pemerintah membuka keran impor. Hal ini, membuat peternak tidak dapat bersaing dengan harga daging impor. Untuk itu, kata Thomas, pemerintah harus memanfaatkan lahan kosong untuk membangun peternakan sehingga kebutuhan dalam negeri tercukupi. Di samping juga mengolah daging menjadi makanan olahan yang bernilai jual tinggi seperti chicken nugget. Mengingat konsumsi daging ayam olahan mengalami pertumbuhan hingga 20 persen tiap tahunnya.(J10-59) |