| Senin, 26 Nopember 2007 | EKONOMI |
Laporan Rencana Kerja BPR Banyak KekuranganSEMARANG-Hingga saat ini banyak laporan rencana kerja Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jateng yang masih banyak kekurangan dan masih harus di revisi. Bahkan banyak laporan rencana kerja yang dilanggar oleh BPR sendiri. ''Misalnya saja kemudian banyak BPR yang kemudian melangkah diluar rencana kerja di tengah tahun berjalan. Contohnya, menjalin kerja sama dengan pihak lain, sementara hal itu tidak dicantumkan dalam rencana kerja di awal tahun. Hal inilah yang seharusnya mendapat perhatian dari pengelola BPR,'' ujar Koordinator Bidang Bank Indonesia Semarang Yuno Kusumo saat memberikan sambutan pada ''Pelatihan Laporan Tahunan dan Penyusunan Anggaran'' Perbarindo Jateng di Hotel Grasia Semarang, baru-baru ini. Pembicara lain dalam kegiatan tersebut FX Sugiyanto dari Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi (LSKE) Fakultas Ekonomi Undip. Semestinya, tandas Yuno, setelah rencana kerja dibuat, hal itu harus dijalankan sesuai dengan yang sudah dilaporkan ke BI. ''Oleh sebab itu, ke depan seharusnya hal ini lebih diperhatikan,'' jelasnya. Ahmad Syakir Kurnia dari LSKE Undip menjelaskan sebelum menyusun asumsi dasar rencana keuangan dan anggaran hendaknya pengelola BPR perlu mempertimbangkan berbagai variabel. Antara lain kondisi makro ekonomi Indonesia seperti tingkat bunga, deposito, pinjaman bank dan pertumbuhan GDP. Selain itu, perlu diperhatikan pula kewajaran dari asumsi-asumsi pertumbuhan yang digunakan seperti asumsi pendapatan, biaya dan lainya. Teguh Sumaryono SE, Ketua Seksi Pendidikan DPD Perbarindo Jateng mengharapkan dengan adanya kegiatan ini, pengelola atau SDM di BPR bisa lebih memahami tentang pembuatan rencana kerja dan anggaran. (H22-59) |