| Senin, 26 Nopember 2007 | BUDAYA |
Pekan Seni Berbasis LingkunganPEKAN Seni Seribu Bunga, begitulah tajuk perhelatan yang dibuka kemarin malam di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. Pekan seni yang diselenggarakan sampai 30 November itu melibatkan tak kurang dari 30 kelompok kesenian dan ratusan seniman. Mereka berasal dari berbagai daerah dan beraneka disiplin seni. Itulah "tebaran seribu bunga", simbol keasadaran ekologis yang melatari perhelatan tersebut. Pada malam pembukaan, hubungan antara alam dan seni pun mengemuka dengan penampilan Ully Sigar Rusady. Ya, citra penyanyi balada itu memang tak bisa dipisahkan dari konservasi alam. Komitmen Ully mewujud lewat syair-syair lagunya atau aktivitas sebagai eksponen gerakan lingkungan. Ully tak cuma datang bersama para pemusik. Dia juga mengajak sang anak, Elsa Sigar, Direktur Yayasan Garuda Kencana. Ya, itulah yayasan yang bergerak dalam upaya penjagaan dan penyelamatan alam. "Konservasi alam tak boleh terhenti," ujar Ully. Lalu, dia pun melantunkan dua lagu ciptaannya, "Salam Perdamaian" dan "Musim Tanam". Pesan tentang keterjagaan alam dan lingkungan begitu terasa dalam kedua lagu itu. Pada lagu kedua, Ully mewartakan semangat masyarakat tradisi (adat) yang begitu dekat dengan alam dan lingkungan. Disharmoni Pelaksana Tugas Kepala TBJT Surakarta Subiyatno, penyelenggara perhelatan, menuturkan acara itu merupakan wujud empati terhadap kondisi bangsa dan negara. Khususnya, berkait dengan bencana alam bertubi-tubi. "Kami berharap kegiatan ini menggugah kesadaran masyarakat tentang dunia seni, alam, dan lingkungan," katanya. Dia berharap pula acara bertema "Menyiram Bunga Menggugah Bangsa, Seni Menjadi Media Penyadaran dan Pencerahan" itu bisa menciptakan ruang kontemplasi, pencerahan, dan penyadaran tentang kondisi bumi. Maka, selain Ully Sigar Rusady, tampil pula gamelan carabalen, tarian tradisi Ondho Langit (Magelang), komposisi musik Gaung Gangsa dan musik lesung Pereng Lawu (Karanganyar). Gubernur Ali Mufiz, melalui Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Edi Susanto, berharap seni sebagai wahana penyadaran alam serta lingkungan itu bisa mewujud. (Wisnu Kisawa,Sri Wahjoedi-53) |