| Senin, 26 Nopember 2007 | BANYUMAS |
JALUR SELATANMantan Kades MemprihatinkanBANJARNEGARA-Nasib mantan kades di Banjarnegara memprihatinkan. Sebagian besar kini mengandalkan usaha bercocok tanam. "Para kades seangkatan saya hanya mendapat tali asih dari pemerintah Rp 120 ribu. Dana pensiun dari desa juga tak seberapa karena bergantung pada kemampuan dan kebijakan BPD," kata Subardi Hangga S, ketua mantan kepala desa se-Kabupaten Banjarnegara yang tergabung dalam Purna Bhakti Praja, pekan lalu. Pensiun itu biasa berupa garapan tanah bengkok. Namun banyak desa yang ternyata tidak memiliki tanah bengkok. Mantan Kepala Desa Kasilib, Kecamatan Wanadadi 1990-1998 itu menambahkan perhatian pemkab kurang tetapi tidak mengurangi semangat mereka. "Kami siap membantu masyarakat, terutama dalam memajukan daerah," tandasnya. (J3-27) Diminta Cek Ponsel Siswa CILACAP-Para kepala sekolah diminta mengecek ponsel siswa-siswinya secara rutin setelah penemuan gambar porno pada beberapa ponsel milik siswa salah satu SMA negeri. Gambar tidak seronok itu ditemukan ketika Dewan Pendidikan dan Forum Perlindungan Anak (FPA) Cilacap merazia ponsel. "Setiap ponsel harus dicek. Kalau ada gambar yang tidak pantas, segera dihapus saat itu juga," kata Drs Sutoyo MS MEd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap, kemarin. Kalau sekolah selalu mengontrol ponsel siswanya, diharapkan pemilik akan malu sehingga akhirnya tak lagi berani menyimpan gambar tidak seronok. H Sudarno SH ST MSi, anggota Dewan Pendidikan mengatakan temuan gambar porno di ponsel itu akan ditindaklanjuti dengan penyuluhan ke sekolah-sekolah. Kegiatan tersebut, lanjut dia, akan dibarengkan dengan sosialisasi Perda tentang Pendidikan.(ag-27) Relokasi Warga Sulit PURBALINGGA- Upaya pemindahan atau relokasi warga Desa Pekiringan, Kecamatan Karangmoncol yang rumahnya terancam nyemplung ke Kali Karang, sulit. Sebab sebagian rumah itu merupakan bangunan permanen. Banyak yang sudah ditembok dindingnya dan dikeramik lantainya. Kasi Perlindungan Masyarakat (Linmas) pada Kantor Kesbanglinmas, Suprapto menuturkan, karena kondisi rumah warga sudah bagus seperti itu maka tidak mudah untuk meminta mereka pindah. Karena itu, dia hanya bisa menyarankan agar warga waspada jika hujan lebat turun. "Apalagi beberapa waktu lalu hujan terus menerus beberapa hari. Sekarang terang terus seminggu lebih. Jadi kondisi sisa tanah yang menggantung di atas sungai semakin rawan ambrol. Karena itu kalau hujan lebat turun, lebih baik mengungsi dari rumah sementara," katanya. Selain menyarankan untuk mengungsi sementara, Suprapto juga berharap beberapa pohon kelapa di ujung sisa tanah dekat sungai ditebang. Karena pohon-pohon itu dikhawatirkan dapat menimpa rumah di dekatnya sebelum jatuh ke sungai akibat akarnya tergerus air saat banjir.(F10-55) Tak Semua Dapat Benih PURBALINGGA- Pemerintah memberikan bantuan benih kepada petani dalam rangka meningkatkan produksi beras. Namun kenyataan di lapangan, tidak semua petani memperoleh bantuan itu. Kalaupun mendapatkan, benih tersebut terlalu sedikit dan tak cukup untuk ditanam di sawah mereka. Kades Toyareka, Kecamatan Kemangkon Samidin menuturkan, luas areal lahan persawahan Desa Toyareka sekitar 232 hektare. Sedangkan bantuan benih yang diberikan pada petani, hanya untuk 185 hektare atau sekitar 4,625 ton saja. Dari lima kelompok tani yang ada, juga tidak semuanya mendapat bantuan. Kondisi serupa juga dialami petani di Desa Dawuhan Kecamatan Padamara. Yasmuri (56), petani setempat mengungkapkan, dari luas lahan sawah sekitar 800 ubin (setara 11.200 meter persegi-Red) yang dimilikinya, hanya mendapatkan bantuan tiga kantong benih. Jumlah tersebut hanya bisa digunakan untuk lahan seluas 180 ubin (setara 2.320 meter persegi-Red). Dengan jumlah yang hanya sebanyak itu, dia harus mencukupi kekurangannya. ''Saya harus membeli benih di toko,'' ujarnya pekan lalu.(H48-74) |