logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 25 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Setengah Jam Dekap Pilar

USAI beristirahat siang, 17 tukang melanjutkan pengerjaan atap bangunan Terminal Tipe A Mangkang. Cuaca cerah, matahari bersinar garang, angin berembus pelan. Mereka kegerahan. Fairi (58), seorang tukang kebagian tugas memasang tripleks untuk tatakan talang di sisi selatan. Kakinya bertumpu pada anak tangga kayu, tangannya memasang tripleks dengan palu dan paku. Saat itu, dia dibantu Batin (40), yang bertumpu pada tangga yang sama. Seperti biasa, suasana kerja terasa hangat oleh canda tawa di antara mereka.

Namun, kehangatan itu buyar berganti teriakan histeris dan jerit kesakitan. Atap bangunan yang tengah mereka kerjakan tiba-tiba runtuh. Fairi yang menyadari datangnya petaka menyuruh Batin melompat segera. Rekan kerjanya itu menuruti perintah dan melompat dari ketinggian sekitar 15 meter hingga jatuh ke tanah. Belakangan diketahui Batin selamat, namun tulang lengannya patah.

Sementara Fairi reflek menyelamatkan diri. Lelaki berkulit legam itu menghindari kerangka baja di atasnya yang rubuh. Dia menggeser tubuh ke arah timur, sambil memeluk pilar beton yang berada di dekatnya. Saat itulah ia melihat rekan-rekannya berjatuhan bersama atap yang runtuh. ''Saya merasa sangat ketakutan. Saya pikir teman-teman yang jatuh itu mati semua,'' ujar Fairi.

Trauma

Lantaran ketakutan pula, ia terus mendekapkan kedua tangannya pada pilar beton. Meski peristiwa mengerikan itu telah berlalu, Fairi tetap bertahan dalam posisinya. Tak hanya semenit dua menit, tapi sampai hampir setengah jam. ''Ya, selama itu saya hanya bisa diam. Saya ngeri, takut teman-teman sudah mati.''

Baru setelah tukang-tukang lain yang berada di lantai I sibuk menyelamatkan para korban, dia berani turun. Hatinya makin tenang, setelah mengetahui teman-temannya yang jatuh seluruhnya selamat. ''Saya bersyukur sekali, semuanya selamat.'' (Rukardi, Budi Winarto- 23)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA