logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 25 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Bisnis Narkoba Selalu Menggiurkan (2)

Penjara, ''Akademi'' Narkoba

PENJARA ternyata bukan tempat ampuh untuk membuat orang jera menggunakan narkoba. Pernyataan ini bukan isapan jempol, namun diakui orang-orang yang mengalaminya.

''Yang tersangkut narkoba bila dimasukkan ke penjara, malah tidak sembuh, karena di dalam semakin mudah menemukannya,'' kata Pakdhe, gembong penjahat yang sembilan kali keluar masuk penjara kepada Suara Merdeka.

Tidak dapat dipungkiri, penjara bukan lagi tempat steril dan ampuh untuk memaksa pengguna, dan para pelaku bisnis barang setan itu menyesali perbuatan mereka. Bahkan, penjara sering berubah fungsi menjadi akademi bagi para pelaku bisnis narkoba.

Bila awalnya mereka berbisnis kecil-kecilan, sekeluarnya dari penjara mereka bisa mendapatkan segudang ilmu akibat pergaulan dengan sesama narapidana lainnya yang lebih berpengalaman.

''Dari ngobrol-ngobrol, kita jadi semakin banyak tahu cara-cara dalam bisnis narkoba. Ada yang ngajarin biar lebih susah ketahuan petugas, ngambil yang lebih nguntungin di mana, ada juga yang ngajarin cara pembuatan narkoba,'' kata Mister X, narasumber sebuah diskusi yang lebih dari lima kali mencicipi penjara.

Tidak heran jika pada akhirnya, pengedar narkoba semakin banyak, berbanding lurus dengan semakin banyaknya para pengguna barang haram itu.

Peningkatan itu dapat dilihat dari data yang dikeluarkan Badan Narkotika Nasional (BNN) beberapa waktu lalu. Pada tahun 2004, jumlah kasus narkoba di seluruh Indonesia, tercatat 8.409 kasus. Dua tahun kemudian melejit hingga 17.355 kasus.

Data itu belum mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, karena fenomena penyalahgunaan narkoba seperti layaknya penyakit masyarakat lainnya, yaitu fenomena gunung es. Penyalahgunaan narkoba lebih banyak tidak terungkap oleh aparat penegak hukum.

Pemain Lama

Melihat kenyataan di atas kata ''jera'' seperti tidak pernah terucap sepenuhnya, baik bagi pengguna maupun pelaku bisnis haram tersebut. Tidak dapat dipungkiri lagi narkoba memang candu. Bagi para pemakai, candu itu berupa kenikmatan, sedangkan bagi produsen atau pun pengedar candu kenikmatan itu berupa gelimang rupiah dan seringkali dolar.

Kepala Polri (Kapolri) Jenderal Sutanto, Jumat (23/11), Liem Piek Kiong alias Monas (47), salah satu tersangka dalam kasus peredaran dua juta tablet ekstasi yang baru diungkap jajarannya, merupakan pemain lama. Beberapa tahun lalu, dia berurusan dengan polisi dan sempat mendekam di bui.

''Tersangka Monas yang ini merupakan pemain lama, yang berkali-kali melakukan perbuatan haram itu,'' ujar Sutanto saat mengunjungi salah satu TKP di Apartemen Taman Anggrek, (23/11).

Bahkan sebelum tertangkap, Monas berencana membangun pabrik sabu-sabu di Indonesia, dengan mendatangkan enam ahli peracik sabu dari China. Namun rencana itu kandas berbarengan dengan penangkapannya.

Bila seorang pesakitan tertangkap atas ulahnya, sewajarnya muncul penyesalan. Namun, itu tidak sungguh-sungguh pria warga Jalan Gria Lestari Blok J No 27 RT 012/04 Komplek Gria Inti Sentosa Tanjung Priok Jakarta ini.

''Saya hanya sesekali ngambil dari seseorang yang saya tidak tahu namanya. Kemudian saya kasihkan kepada teman saya. Gak benar saya pengedar. Kalau sabu pakai dikit-dikitlah, kadang iseng,'' ujar Monas seakan dirinya mempunyai peran kecil dalam peredaran dua juta ekstasi di Indonesia.

Monas merupakan prototipe dari ''pengusaha'' sabu yang tahan banting. Betapa tidak penjara tidak membuatnya kapok, dan pernyataan seperti di atas diungkapkan kepada wartawan dengan muka yang dibuat serius, padahal aparat yang baru saja menyidik dirinya dan mengetahui betul perannya, ikut mendengarkan wawancara.

''Apa kata Monas aja deh,'' ujar salah satu penyidik sambil tertawa. Sedangkan Monas terus meyakinkan apa yang dikatakannya merupakan suatu kebenaran. Bahkan, ancaman hukuman mati terbukti tidak mampu memalingkan pelaku bisnis narkoba dari dunia gelapnya.

Ancaman tersebut tidak main-main, sebab secara keseluruhan di Indonesia setidaknya 72 orang divonis harus berhadapan dengan regu tembak. (Wahyu Wijayanto-48)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA