logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 25 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Separo Koleksi Diduga Raib

  • Benda Museum Didata Ulang

SOLO- Tim inventarisasi atas benda-benda yang tersimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta mulai bekerja, Sabtu (24/11). Tim direncanakan akan melakukan inventarisasi selama 10 hari mendatang secara tertutup.

Tim ini sekaligus untuk memastikan apakah benar 50% koleksi Museum Radya Pustaka sudah lenyap. Selama ini dugaan itu tanpa data valid, sehingga bisa membingungkan masyarakat. Tim inventarisasi itu berasal dari berbagai elemen, di antaranya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, Pemkot Surakarta, Keraton Surakarta, Arkeolog UGM dan UNS serta Poltabes Surakarta.

Inventarisasi dilakukan terkait dengan hilangnya lima arca batu koleksi museum beberapa waktu lalu. Diduga masih ada koleksi asli bersejarah dalam museum tertua di Indonesia itu sudah raib alias dipalsukan.

Ketua tim, Lambang Babar Purnomo mengatakan tujuan utama inventarisasi untuk mencocokkan data di museum dengan data atau dokumen milik BP3. Utamanya dengan dokumen 2001, 2003.

Ketua Pokja Perlindungan BP3 Jateng itu mengatakan dari pencocokkan itu akan diketahui apakah benda-benda di museum masih sesuai dengan dokumen aslinya. "Ada 14 anggota tim yang akan melakukan inventarisasi selama 10 hari ke depan. Mereka akan dibagi dalam beberapa tim, untuk memudahkan inventarisasi," ungkapnya.

Banyak Kejanggalan

Untuk hari pertama. lanjut dia, belum mempunyai target benda apa yang akan diinventarisasi. Tim masih terfokus pada pengamatan secara global dan pembagian anggota. Sebab, tidak mungkin semua anggota meneliti satu benda saja.

Mereka akan dibagi dalam tim kecil, yakni tim yang bertugas meneliti arca, perunggu, kristal, naskah kuno dan lain sebagainya. Penelitian dan pencocokkan data tidak hanya dilakukan pada benda-benda bernilai tinggi, namun semua koleksi di museum itu.

Saat ditanya tentang koleksi apa saja yang disinyalir sudah tidak asli, selain lima arca batu yang kini telah ditemukan, Lambang menyatakan sesuai dengan penelitian yang dilakukan BP3 pascalaporan dari salah seorang mantan pegawai museum, terdapat beberapa kejanggalan.

Koleksi-koleksi itu berupa, tiga arca yang terbuat dari perunggu yakni, arca Saraswati, Giani Bodisatwa serta arca Avalukikitesvara. Piring keramik dari China, lampu gantung perunggu serta koleksi kristal hadiah dari Napoleon Bonaparte.

"Seberapa pun kecilnya pemalsuan itu akan diketahui setelah inventarisasi ini. Dan hasilnya nanti akan kami laporkan kepada pihak yang berwajib untuk ditindaklanjuti," tandasnya.

Dalam tim itu terdapat nama Amborowati, mantan pegawai museum yang melaporkan ke BP3 Jateng atas kejanggalan yang terjadi di Radya Pustaka itu. Namun dia tidak mau berkomentar banyak soal laporan dan benda apa saja yang ada dalam sudah berubah atau tidak asli.

Dia mengatakan semua yang diketahuinya sudah dilaporkan pada BP3 dan sudah ditindaklanjuti oleh Poltabes Surakarta.

Sebelum tim masuk ke dalam museum, sudah ada kesepakatan dengan pemkot dan polisi. Sebab, museum masih disegel. Inventarisasi sendiri dilakukan secara tertutup. Tidak ada yang diperkenankan masuk kecuali petugas yang berkompeten.

Pengangeng Keraton Surakarta yang Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) KP Edy Wirabhumi mendukung sepenuhnya dan mengikutsertakan tujuh orang dalam tom itu, di antaranya adalah Yanti dan Indra, pegawai Museum Radya Pustaka. (G11-77)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA