| Minggu, 25 Nopember 2007 | NASIONAL |
Atap Terminal Runtuh, 14 Luka
SEMARANG- Kecelakaan kerja kembali terjadi di Semarang. Setelah Kamis (22/11) lalu seorang pekerja Hotel Ibis tewas terjatuh, kini giliran 14 pekerja proyek pembangunan Terminal Tipe A Mangkang menjadi korban. Mereka jatuh dan tertimpa atap bangunan terminal yang runtuh, Sabtu (24/11), sekitar pukul 14:15. Para pekerja itu menderita luka-luka tertimpa material atap, seperti kerangka baja, kayu, dan genteng. Polisi masih menyelidiki penyebab runtuhnya atap itu. Seluruh korban segera dilarikan ke UGD RSU Tugurejo, yakni Hermanto (45), Karsidi (45), Kastubi (50), Eri Setiawan (20), Batin (40), Mintarno (40), Supai (52), Santoso (40), Tumito (40), dan Karnawi (40). Mereka hanya mengalami luka memar dan lecet di bagian kepala, tangan, dan kaki. Sedangkan empat pekerja menderita luka berat dan harus menjalani rawat inap, yakni Darno (45); patah tulang leher, Sugiyoto (40); patah lengan kiri, Tugino (40); patah tulang belakang, dan Suwito (35); luka parah di bagian kepala. Seluruh korban adalah warga Desa Tubanan RT 3 RW 7 Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Menurut saksi Karnawi, peristiwa nahas itu berlangsung cepat, dan tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Saat itu 17 pekerja tengah mengerjakan atap bagian barat bangunan utama terminal Mangkang yang berlantai dua. Sebagian memasang kayu reng, sebagian lagi menata genteng. Setelah sisi selatan selesai, mereka hendak mengerjakan atap di sisi utara. Namun, ketika pekerja baru menaikkan kayu reng dan menata genteng, tiba-tiba atap kerangka baja terasa goyah dan beberapa detik kemudian runtuh. Runtuhnya atap dimulai dari sebelah timur dan merembet ke arah barat. Tak ayal, para pekerja yang berada di atas atap setinggi 20 meter itu pun berjatuhan. ''Sebelum runtuh, kami tidak merasakan tanda-tanda apapun. Tiba-tiba saja atap goyang dan kami berjatuhan. Setelah itu, saya tidak sadarkan diri. Tahu-tahu sudah digotong teman-teman,'' ujar Karnawi. Sejumlah saksi mata menuturkan, sebagian korban tergeletak tak sadarkan diri di antara reruntuhan genteng dan kayu. Bahkan, ada yang terjepit di antara kerangka baja. Pekerja lainnya langsung memberikan pertolongan. Korban diangkut menggunakan mobil milik kontraktor atau dititipkan bus umum yang lewat untuk dibawa ke RSU Tugurejo. ''Tidak ada angin kencang atau gempa. Tiba-tiba saja atap runtuh. Ya mungkin kerangka baja itu tidak kuat menahan beban genteng dan kayu,'' terang Lim Suntoro pekerja asal Purwodadi. Koordinator Lapangan PT Aditya Dewata Gilang Semesta, kontraktor pembangunan Terminal Mangkang tahap V, Edi Suryo Atmodjo enggan berkomentar menanggapi kecelakaan itu. Kendati demikian, dia menegaskan pihaknya akan bertanggung jawab terhadap para korban. Seluruh biaya perawatan mereka di rumah sakit akan ditanggung sepenuhnya. ''Seluruh pekerja kami asuransikan. Jadi, para korban tidak usah memikirkan biaya pengobatan dan perawatannya,'' katanya. Menurut Kasatreskrim AKP Gandung Sarjito SH, pihaknya telah memeriksa seorang mandor bangunan dan pekerja sebagai saksi. Kemungkinan jumlah saksi yang diperiksa akan bertambah. Bahkan penyidikan akan berkembang bukan hanya pada lokasi bangunan yang runtuh, melainkan melebar ke bangunan lain di terminal tersebut. Sebab, menurut dia, bila melihat kondisi genteng, kerangka besi dan kayu yang digunakan ada dugaan tidak sesuai bestek. ''Seharusnya bangunan sekelas terminal yang kerap banyak mengalami goncangan dari lalu-lalang bus dan banyak orang di dalamnya, harus kokoh. Tidak mudah runtuh. Karena itulah kami akan menyelidikan secara menyeluruh agar kasus serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari,'' terang dia. Sementara itu, Kepala Kantor Infokom Kota Semarang, Bambang Kono mengatakan, runtuhnya atap Terminal Tipe A Mangkang sebagai musibah biasa. Petugas dari DPU Kota segera melakukan pemeriksaan lapangan, sesaat setelah peristiwa terjadi. ''Pembangunan Terminal Mangkang telah dilakukan sesuai prosedur. Jadi runtuhnya atap terminal itu merupakan musibah yang terjadi di luar kemampuan kita,'' katanya. Pembangunan Terminal Tipe A Mangkang dilakukan secara bertahap. Saat ini telah memasuki tahap V dengan target menyelesaikan bagian atap, termasuk kubah, emplasemen kedatangan, emplasemen pemberangkatan penumpang, serta menara pengawasan. PT Aditya Dewata Gilang Semesta memenangkan tender proyek tahap V senilai Rp 10 miliar, dan telah memulai pekerjaannya 2 September lalu. (H13,H6, D12-77) | ||||