logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Nopember 2007 NASIONAL
Line

MUSIK

Jak Jazz Tebar Lukisan Keakraban


SM/Asep BS JAZZ AKRAB: Satoru Shionoya Group beraksi di hari pertama Jak Jazz 2007, semalam. Keakraban pemain dan penonton tampak jelas dalam pentas musik jazz tahunan tersebut.(30)

JAK Jazz 2007 yang digulirkan mulai semalam di Istora Senayan, Jakarta, berlangsung dengan penuh kehangatan dan keakraban. Dua puluh enam band dari berbagai negara yang tampil di tiga panggung utama dan empat panggung kecil berhasil membuat ribuan penonton terpuaskan.

Mengapa dibilang akrab? Karena, hampir tidak ada jarak antara pemain dan penonton. Mereka bisa menikmati dengan jarak sangat dekat, hanya satu atau dua meter, sehingga bisa lebih mengapresiasi spirit yang digulirkan para pemusik.

Seperti ketika Carmen Bradford & Rani Singam, dan Shionoya Satoru yang mempertontonkan kebolehan mereka di panggung utama Super Premium Stage. Atau ketika Dainius Pulauskas Sextet dan Elfa's Big Band di Big Stage 1 memberikan sebuah penikmatan betapa musik jazz bisa dengan mudah menjadi akrab dan hangat untuk semua penikmat musik.

Atau ketika Budjana dan Tohpati, dua nama musisi yang sudah tidak asing bagi pecinta jazz Tanah Air, kembali memberikan penikmatan lain tentang makna jazz dengan lebih cair.

Festival jazz tahunan yang kali ini mengusung tema "Paint the Town Jazz" benar-benar melukis kota. Kata "town" di sini maksudnya adalah kota-kota di daerah yang dikunjungi berbagai event pra-Jak Jazz seperti diadakannya audisi band lokal di Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya yang pemenangnya ditampilkan di Jak Jazz, sehingga warna jazz diharapkan tidak hanya berkutat di Jakarta saja tapi juga menyebar ke daerah.

Menurut Veronita Kuspratiwi selaku media relations manager, dari target 20.000 penonton setiap harinya, di hari pertama festival (23/11) tercatat lebih dari 15.000 penonton memadati agenda internasional tersebut.

"Dengan target raihan penonton lebih dari 60.000 ribu untuk tiga hari penyelenggaraan, raihan penonton di hari pertama cukup menjanjikan," katanya.

Akhir Pekan

Biasanya, lanjut Veronita, sebagaimana penyelenggaraan tahun lalu yang mengambil tema "Jazz in the Park", pada penyelenggaraan akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu, jumlah penonton yang datang akan menemui puncaknya.

Dan memang, hampir di semua panggung yang tersebar, ratusan penonton menyemut baik di panggung kecil maupun ribuan penonton lainnya di panggung utama. Antusiasme yang tinggi tersebut, menurut motor Jak Jazz 2007 Ireng Maulana, diharapkan dapat mewujudkan harapan panitia penyelenggara.

"Sesuai dengan tema kami melukis kota dengan jazz, semoga harapan itu menjadi nyata," kata Ireng bungah, seusai mempertontonkan aksinya di panggung utama. Maraknya tanggapan masyarakat atas festival ini, imbuhnya, diharapkan juga dapat memangkas stigma bahwa musik jazz hanya bisa dinikmati segelintir masyarakat.

"Karena sejatinya, musik jazz bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, dan bisa dengan sangat menjadi milik masyarakat kebanyakan."

Kehangatan yang ditimbulkan oleh Jak Jazz 2007 itulah yang tampaknya mulai ditunjukkan di hari pertama penyelenggaraan, semalam. Namun, apakah para pengisi acaranya seperti Satoru Shionoya, rising star dari Jepang, merasakan kehangatan serupa?

"Tentu saja kami bangga dan bahagia dapat tampil di acara sebesar Jak Jazz 2007, dan kami akan membawa pengalaman berharga ini ke negeri kami dengan bangga," ujar Shionoya mewakili keempat rekannya. (Benny Benke, Asep BS-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA