| Sabtu, 24 Nopember 2007 | NASIONAL |
Bisnis Narkoba Selalu Menggiurkan (1)900 Korbannya Siswa SD
Sebuah jaringan internasional berencana memasok 2 juta pil ekstasi ke Indonesia. Mereka menjadikan negeri ini sebagai lahan empuk bisnis barang haram itu. Mengapa? Berikut laporannya. NARKOBA kini menjadi ancaman yang sangat menakutkan. Peredaran barang haram ini bagaikan virus yang cepat menyebar luas hingga ke pelosok desa pun sudah ditemukan. Yang kini bikin ngeri, narkoba telah menembus ke sekolah dan kampus. Pencapaian ''prestasi'' Indonesia kini tidak hanya sebagai negara konsumen, namun sudah menjadi produsen. Jajaran kepolisian beberapa waktu lalu pernah menggerebek pabrik narkoba di Tangerang, Mura Karang, Batam, dan berbagai tempat lainnya. Yang mencengangkan, di antara pabrik tersebut, diduga merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Sangat masuk akal itu bisa terjadi, karena Indonesia merupakan wilayah yang menggiurkan dalam bisnis haram tersebut. Salah satunya disebabkan semakin lebarnya kesenjangan sosial. Bagi rakyat miskin, bisnis tersebut sering dijadikan sebagai salah satu jalan keluar. Di lain pihak banyak orang kaya yang dimanjakan banyaknya pengedar narkoba, yang notabene kebanyakan berasal dari kaum yang kurang beruntung. Sementara penegakan hukum lemah. Dengan keadaan seperti itu, maka produsen narkoba ilegal pun berlomba-lomba membuat sendiri di Indonesia. Hasil penelitian antara Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Universitas Indonesia (UI) beberapa waktu lalu, mensinyalir peredaran uang dalam bisnis narkoba mencapai Rp 12 triliun. Sementara pemakaianya juga semakin menggila. BNN mengklaim korban narkoba di Indonesia dari tahun ke tahun grafiknya terus naik. Pada 2006, 3,2 juta orang, 900 orang di antaranya adalah anak SD. Dari hari ke hari jumlah tersebut, dipastikan semakin membengkak. Penelitian tersebut, mencatat sekitar 15 ribu orang Indonesia setiap tahunnya mati sia-sia akibat memakai narkoba. ''Ini sungguh menyesakkan dada. Karenanya kita harus terus melawan, memberantas, memerangi narkoba agar korban tidak terus berjatuhan,'' ungkap Direktur IV Tindak Pidana Narkoba dan Kejahatan Terorganisir Mabes Polri yang juga Direktur Represif BNN Brigjen Pol Indradi Thanos di Jakarta, beberapa waktu lalu. Perang terhadap narkoba memang terus didenggungkan. Berbagai operasi penindakan dan penegakan hukum dilancarkan. Selama tahun 2006, BNN mencatat jumlah kasus narkoba secara nasional yang diungkap sebanyak 11.400, dengan jumlah tersangka 22.503 orang terdiri atas 22.457 WNI dan 46 WNA. Barang bukti yang disita mencakup ganja 9.888.994,72 gram, kokain 149,20 gram, heroin 4.042,34 gram, sabu-sabu 1.188.113,51 gram dan ekstasi 180.498,5 tablet. Untuk pabrik narkoba, BNN berhasil membongkar 18 pabrik pil ekstasi dan sabu-sabu, berikut laboratorium di Indonesia. Pabrik itu antara lain ekstasi sindikat Burhan Tahar di Cengkareng, Tangerang, pabrik ekstasi sindikat Ang Kiem Soei di Tangerang, pabrik ekstasi sindikat Hans Philip di Bogor, Jawa Barat, pabrik sabu-sabu sindikat Benny Sudrajat di Cikande, Banten. Terakhir membongkar rangkaian pabrik di Muara Karang dan Batam. Sedangkan, laboratorium gelap psikotropika sindikat Siswo Prawiro ditemukan di Batu Jawa Timur, serta laboratorium gelap pil ekstasi sindikat Hangki Gunawan di Surabaya. (77) |