logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Rekonstruksi, Mbah Hadi Pucat


SM/ Yusuf Gunawan PROSES REKONSTRUKSI: Polisi menyiapkan proses rekonstruksi bagi empat tersangka kasus pencurian arca di Museum Radya Pustaka Solo, Jumat (23/11). (30)

REKONSTRUKSI aksi pencurian lima artefak berupa arca dari Museum Radya Pustaka, Jumat (23/11), digelar kurang lebih 3 jam sejak siang. Museum tertua di Jalan Slamet Riyadi yang biasanya sepi pada sore hari, kemarin berubah karena kedatangan puluhan petugas kepolisian yang membawa empat tersangka, yaitu KRH Darmodipuro, Jarwadi, Gatot dan Heru Suryanto.

Kedatangan warga yang memenuhi halaman museum, menambah suasana reka ulang tindak kriminal itu kian ramai.

Namun warga yang terus berdatangan tidak bisa melihat langsung menyaksikan jalannya reka ulang, karena semua proses urut-urutan skenario pencurian itu, hampir seluruhnya berlangsung di dalam museum tertutup untuk umum, termasuk wartawan.

Sekilas hanya beberapa adegan yang bisa dilihat dari luar pintu garasi museum, ketika Kepala museum, KRH Darmodipuro (Mbah Hadi), dan dua pegawainya, Jarwadi (37) dan Suparjo alias Gatot (37), tampak luwes dalam memerankan setiap adegan.

Mbah Hadi, sang bos, kerap memerintahkan Jarwadi dan Gatot untuk mengeluarkan arca asli dari museum lalu diganti arca imitasi ke bak mobil.

Adegan itu hanya bisa terlihat dari jarak sekitar 25 meter dari balik pintu pagar garasi. Itupun hanya sekilas, karena sesuai urutan peristiwanya harus bergeser ke arah dalam museum yang semakin tertutup tembok.

Sedikitnya ada 67 adegan yang diperagakan para tersangka. Berdasar alur cerita yang dibuat penyidik, adegan dimulai ketika Heru Suryanto (55), selaku penadah lima arca, menemui pegawai museum Amborowati (27). Saat itulah, Heru melihat dan mengambil gambar sejumlah arca di museum itu. Bahkan, mengukur lebar dan tinggi badan beberapa arca.

Enam puluh tujuh adegan menggambarkan aksi pencurian lima arca yang telah menjadi perhatian publik itu, bukan semata terjadi dalam waktu singkat.

''Peristiwa pencurian terjadi tiga kali yakni Juli, September dan Oktober 2006,'' tegas Kasat Reskrim Poltabes Surakarta AKP Syarif Rahman.

Pertemuan Mbah Hadi yang memiliki keahlian dalam petung Jawa dengan Heru awal 2006, lanjut Syarif, pertanda awal dari kisah yang menghebohkan itu.

Ketika itu, Heru yang dikenal sebagai mantan gitaris grup Band Parados (Solo) di tahun 1970-an tersebut, datang ke museum bersama seorang kolektor benda-benda antik warga Jerman bernama Hugo Kreijger.

Kedatangan Heru tidak lain berminat membeli benda-benda peninggalan sejarah masa lampau. ''Keinginan Heru untuk membeli arca sempat saya tolak,'' kata Mbah Hadi saat ditanya penyidik dalam reka ulang itu.

Meski ditolak, lelaki yang dikenal sebagai pedagang barang antik dan batik itu tidak pernah menyerah. Keuletan dan upaya tidak kenal lelah Heru, rupanya dapat meluluhkan sikap keras mbah Hadi.

Tentu saja, dengan tawaran atau iming-iming sejumlah uang yang menggiurkan. Kedekatan Mbah Hadi dengan Heru, rupanya menjadi titik awal aksi pencurian di museum.

Dimulai ketika Heru memperlihatkan foto Arca Siwa tiruan kepada Mbah Hadi. Arca tiruan yang diperlihatkan itu begitu mirip, dan hampir tidak beda dengan aslinya yang saat itu masih tersimpan di museum.

Setelah kedekatan keduanya kian baik, dan jaminan kepercayaan tidak lagi ada masalah, arah pembicaraan sampai pada penukaran Arca Siwa yang asli dengan yang palsu. Sebagai daya tarik, Heru menawarkan iming-iming atau kompensasi berupa uang tunai puluhan juta rupiah.

Tawar-Menawar

Dalam sebuah adegan terjadi tawar-menawar harga, lelaki yang pernah tinggal di Jalan Patimura, Serengan, Solo itu, menawar Arca Siwa asli seharga Rp 35 juta. Kontan membuat Mbah Hadi tergiur.

Setelah pembicaraan harga disepakati, transaksi pembayaran dilakukan di rumah Mbah Hadi di Jalan Kiai Mojo, Semanggi, Pasarkliwon, Solo, dengan harapan agar tidak mencurigakan orang banyak.

Tukar-menukar Arca Siwa berlangsung pada Juli 2006 dengan kompensai uang pun terjadilah.

Rupanya, aksi kejahatan itu berjalan lancar dan aman-aman saja, sehingga untuk kali kedua mereka bersepakat. Yaitu, menukar arca Agastya dan Durga Mahesasuramardhini bertangan delapan, kemudian Durga Mahesasuramardhini bertangan dua, hingga terakhir Arca Mahakala antara September-Oktober 2006.

Peran Jarwadi dan Gatot dalam reka ulang terekam jelas terlibat aksi pencurian. Keduanya diperintah Mbah Hadi untuk menukar arca asli dengan yang palsu.

Gatot selain turut mengangkat arca asli dan mengganti yang palsu, juga bertindak sebagai pengemudi mobil. Jarwadi juga memiliki peran ganda, yakni turut mengangkut arca sekaligus bertugas membuka dan menutup pintu museum.

Proses reka ulang yang panjang, membuat Mbah Hadi terlihat kelelahan. Ahli pawukon atau horoskop Jawa yang cukup dikenal masyarakat luas itu, ekspresinya tidak secerah ketika awal dia ditangkap petugas. Dia banyak tertunduk dan wajahnya sedikit pucat. Tidak lagi galak kepada setiap orang yang misalnya, tidak memanggil namanya dengan ''mbah'', melainkan ''pak''.

Dalam reka ulang selama tiga jam mulai pukul 14.30, Mbah Hadi kerap menundukkan kepalanya. Hanya sesekali menyapa sejumlah warga yang dia kenal, sambil melambaikan tangan, usai rekonstruksi berlangsung.

Mbah Hadi terlihat murung selama reka ulang, tidak seperti dua anak buahnya, Jarwadi dan Gatot yang kerap mengumbar senyum. Begitu pula Heru Suryanto, tetap tampak tegar meski memerankan dirinya sendiri sebagai penadah.(Sri Hartanto-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA