logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Malaysia Pasok 2 Juta Ekstasi

  • Jaringan Internasional Terbongkar

SM/Antara BANDAR NARKOBA: Tersangka bandar narkoba asal Malaysia (dari kanan) Lim Jit Wee, Cheong Mun Yau dan Chua Lik Chang duduk di depan barang bukti kejahatannya berupa pil ekstasi dan uang tunai, setelah ditangkap aparat kepolisian di Apartemen Mall Taman Anggrek, Jakarta, Jumat (23/11).(30)

JAKARTA-Mabes Polri, Jumat (23/11), membongkar jaringan internasional bisnis haram. Tidak tanggung-tanggung, sekitar setengah juta tablet ekstasi berhasil diamankan. Selain itu, polisi mengamankan barang bukti uang tunai total sebesar Rp 3,45 miliar, 25 ribu dolar Singapura, 60 ribu dolar AS, dan 168 ribu dolar Hong Kong.

Polisi mengamankan tersangka, tiga orang WNI yaitu Abdulrohim (50), Lim Piek Kiong alias Monas (47), dan Thio Bok An alias Johan (60), serta dua warga negara Malaysia atas nama Lim Jit Wee (41) dan Chua Lik Chang alias Asok (52).

Empat tersangka lainnya buron, yaitu Cheong Mun Yau, Diong Chee Meng, Steven Law alias Albert, dan Jet Lie Chandra (istri Monas). Selain Jet Lie, ketiga buron lainnya merupakan warga negara Malaysia yang diduga mengendalikan pengiriman ekstasi ke Indonesia.

Menurut Kepala Polri (Kapolri) Jend Sutanto, dari informasi yang diperoleh dari anggotanya, jaringan itu total berencana memasukkan dua juta pil ekstasi ke Indonesia. Dari jumlah tersebut, setengah juta pil berhasil diamankan, dan 481 ribu pil sudah beredar di pasaran, serta sekitar 1 juta lagi masih dalam penyelidikan.

Bahkan, sewaktu penyidikan terungkap, jaringan tersebut berencana membangun pabrik sabu-sabu di Indonesia. Untuk merealisasi rencana tersebut, para tersangka berencana mendatangkan enam teknisi dari China.

''Mereka menyebutkan akan membuat pabrik sabu di Indonesia, dengan mendatangkan teknisinya dari China sebagai peracik,'' ujar Sutanto, Jumat (23/11), ketika mendatangi salah satu TKP di Apartemen Taman Anggrek.

Dikendalikan Malaysia

Untuk mengejar para tersangka lainnya, Polri mengontak Interpol, karena jaringan pengedar barang setan itu dikendalikan dari Malaysia.

Ironisnya, proses masuk jutaan pil ekstasi itu yang melalui jalur pelabuhan, disinyalir dibantu oleh oknum petugas. Namun Sutanto tidak merinci lebih lanjut siapa oknumnya.

''Saya tidak sebutkan dulu, ini masih dalam pengembangan penyidikan. Sementara oknum tersebut masih satu orang. Kalau ada yang terlibat lainnya akan kita tindak,'' lanjut Sutanto.

Mengenai kronologi pengungkapan kasus itu, Direktur IV Tindak Pidana Narkoba dan Kejahatan Teroganisir Mabes Polri Brigjen Pol Indradi Thanos menjelaskan kasus itu berawal informasi dari masyarakat.

Mereka menyebutkan adanya sindikat narkoba yang mengimpor ekstasi dari Belanda dalam jumlah jutaan tablet. Atas informasi tersebut, diterjunkan tim yang diketuai oleh AKBP Samsu Rijal Mokoagow untuk melakukan pendalaman.

Benar saja, tanggal 10 November tepat pukul 18.00, polisi menemukan barang bukti ekstasi sebanyak 9.802 butir, dan menangkap Abdurohim di kamar 2319 Hotel Peninsula Jakarta Barat.

Dalam pengembangan penyidikan, Rabu (21/11), pukul 13.30 di kamar 30 KH Tower Dahlia Apartemen Mediterania Jakarta Barat, polisi menangkap Lim Jit Wee, dan menyita uang tunai Rp 950 juta, 25 ribu dolar Singapura, dan ekstasi sebanyak 11 ribu tablet yang disimpan di mobil Kijang B-7870-ZO yang diparkir di lantai dasar apartemen itu.

Rabu itu juga, pukul 15.00, di kamar 26 KA apartemen yang sama, ditangkap seorang warga negara Malaysia bernama Chua Lik Chang alias Asok.

Selanjutnya penyidikan dikembangkan dengan menggeledah kamar 19A Tower 5 Apartemen Taman Anggrek.

Di tempat tersebut, berhasil disita ekstasi sebanyak 470 ribu tablet, 24 kaleng phosporus yang setiap kalengnya berisi 500 gram, serta tiga botol iodium cristal yang setiap botolnya berisi 500 gram, yang diduga sebagai bahan pembuatan ekstasi.

Kamis (22/11), pukul 01.00 di kamar 39E Tower 7 Apartemen Taman Anggrek, ditangkap dua orang tersangka lainnya yang merupakan WNI, yaitu Lim Piek Kiong alias Monas, dan Thio Bok An alias Johan. Di tempat itu ditemukan 1,6 gram sabu.

Penyidikan berlanjut, dengan menggeledah rumah Monas di Jalan Gria Lestari Blok J Nomor 27 Komplek Gria Inti Sentosa Tanjung Priok Jakarta Utara. Di tempat tersebut ditemukan, 0,7 gram sabu serta 45 gram serbuk putih yang diduga ketamin.

Berlanjut Jumat (23/11), pukul 02.00, polisi mendobrak kamar 19J Tower 3 Apartemen Taman Anggrek, milik Steven Law alias Albert. Polisi menemukan uang tunai Rp 2,4 miliar, 60 ribu dolar AS, dan 168 ribu dolar Hong Kong yang disimpan di dalam brankas.

Selain itu ditemukan, 4 botol iodium cristal, satu kaleng fosfor, dan kristal yang diduga sabu seberat 5 gram.

Menurut Samsu Rijal, pengungkapan kasus itu merupakan yang terbesar dalam kasus ekstasi. ''Selama penangkapan di kepolisian, barang bukti yang disita kali ini yang terbesar,'' ujarnya.

Sedangkan Indradi Tanos mengatakan, diduga peredaran ekstasi tersebut melalui diskotik-diskotik di seluruh Indonesia, dengan harga Rp 100 ribu per butir. Sedangkan sekitar setengah juta tablet ekstasi yang disita aparat setara dengan lebih dari Rp 49 miliar.

Dia yakin, selain di Indonesia dan Malaysia, jaringan ini juga melibatkan jaringan pengedar narkoba dari Belanda, Hong Kong dan Singapura.(J21-49)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA