| Jumat, 23 Nopember 2007 | WACANA |
Meluruskan Niat Haji
HARI-hari ini para calon haji (calhaji) Indonesia yang berjumlah sekitar 210.000 orang mulai iberangkatkan ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji tahun 1428 Hijriah. Kloter 1 yang berangkat pada 17 Oktober, direncanakan kembali ke tanah air 25 Desember 2007. Mereka, bersama-sama dengan jamaah haji dari negara-negara lain, akan menjadi tamu Allah selama 39 hari. Sebagai tamu, sudah barang tentu Allah yang merupakan shahibul bait akan memuliakan mereka. Kemuliaan yang diberikan itu tidak sama antara seorang jamaah dengan jamaah yang lain, tergantung bagaimana niat, sikap dan perilakunya ketika menjadi tamu. Begitu tinggi predikat yang disandang oleh jamaah haji, yakni tamu Allah. Sewajarnya bila haji merupakan ibadah yang menuntut berbagai persyaratan dan persiapan baik bersifat mental, fisik maupun finansial; disamping kondisi keamanan yang kondusif. Persyaratan lain yang menyebabkan ibadahnya bisa benar dan sempurna adalah penguasaannya terhadap tata cara berhaji. Ia harus mengetahui mana yang termasuk rukun, wajib, sunat dan keutamaan apa yang harus dilakukan selama berada di tanah suci. Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh setiap calhaj adalah masalah niat. Niat inilah yang menentukan apakah hajinya menjadi mabrur atau mardud. Rasulullah saw. menandaskan bahwa diterima atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Oleh karena itu, sejak memulai tahapan haji, setiap calhaj harus bersungguh-sungguh meluruskan dan menata niat. Haji itu harus diniati semata-mata karena Allah. Hatinya harus benar-benar lurus, tidak boleh ada sedikit pun niat dan kepentingan selain karena-Nya. Semua atribut duniawi mulai dari kekayaan, pangkat dan jabatan harus benar-benar ditanggalkan, tidak perlu dibawa ke tanah suci. Ibadah haji, oleh sebagian orang, kadang-kadang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa secara fisik dan ekonomi lebih mampu dibanding dengan orang lain sehingga menimbulkan kebanggaan sosial. Ada sebagian orang yang merasa malu bila tidak menunaikan haji karena termasuk orang kaya. Perasaan semacam ini dan yang sejenisnya harus benar-benar dihindari. Empat Macam Rasulullah saw mensinyalir bahwa pada akhir zaman ada orang yang beribadah haji bukan karena Allah semata, tetapi ada maksud yang lain. Mereka itu dikelompokkan menjadi empat macam. Pertama, bagi penguasa dan pejabat, haji dianggap sebagai rekreasi. Kedua, bagi orang kaya, haji diniati untuk berdagang. Ketiga, bagi orang miskin, haji dimanfaatkan untuk meminta-minta. Keempat, bagi orang pandai, haji dimaksudkan untuk pamer. Yang tidak kalah pentingnya adalah ibadah haji harus didasarkan atas kesadaran pribadi. Keinginan untuk melaksanakan haji hendaknya muncul dari lubuk hati yang paling dalam dengan maksud untuk menyempurnakan keimanan. Ibadah haji bukanlah ibadah ekslusif yang mengakibatkan munculnya rasa riya (pamer). Bacaan talbiyah yang berarti: "Saya penuhi panggilan-Mu ya Allah, saya penuhi panggilan-Mu. Saya penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, saya penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu" hendaknya tidak hanya diucapkan di lesan. Makna dari apa yang diucapkan itu harus benar-benar mendasari pelaksanaan ibadah haji, harus diresapi dan dihayati. Selain dilandasi dengan niat yang benar, rangkaian ibadah haji itu harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Selama berhaji tidak boleh mengucapkan kata-kata yang kotor (rafats), tidak boleh melakukan perbuatan yang melanggar aturan (fusuq) dan tidak boleh berbantah-bantahan (jidal). Ketika berada di tanah suci sering-seringlah melakukan tobat, terutama ketika wukuf. Wukuf di padang Arafah yang merupakan puncak ibadah haji hendaknya bisa dimanfaatkan untuk introspeksi diri seraya memohon ampunan kepada Allah atas segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah dilakukan. Introspeksi diri itu hendaknya diikuti dengan merencanakan apa yang seharusnya dilakukan setelah bertobat. Pada hakikatnya, haji merupakan perjalanan mengubah diri untuk lebih dekat kepada Allah. Apabila suasana wukuf di Arafah itu bisa dilakukan pada setiap saat, niscaya hidupnya akan selalu terkontrol dan jiwanya menjadi bersih. Haji memang mempunyai tujuan yang sangat mulia yaitu berupa tazkiyatun nafs, penyuci hati dan pendekat hamba kepada Tuhannya. Haji mabrur adalah haji yang bisa mengubah diri pelakunya menjadi orang yang lebih baik sikap mental dan amaliah kesehariannya. Sekembalinya dari tanah suci, ia memulai hidupnya dengan lembaran baru, menapak jalan yang kokoh dalam beribadah, bermuamalah dan berakhlak. Ia akan menjadi orang yang tampil beda dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahnya, meningkatkan amal kebajikannya, bersikap jujur dalam kerja sama, mencurahkan amar makruf dan nahi munkar, berhati bersih, menjaga diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan tercela, anti korupsi, meningkatkan ukhuwah, arif-bijaksana, taat hukum, peduli sesama dan membantu kaum dhuafa. (11) -- Prof Dr H Muslich Shabir MA, dosen IAIN Walisongo Semarang |