| Jumat, 23 Nopember 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAKesiapan Parpol Menghadapi Pilgub 2008Menghadapi pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008 yang tinggal beberapa bulan lagi, kesiapan partai politik tampaknya belum maksimal. Setidaknya sampai sekarang baru ada satu yakni Partai Golkar yang telah menetapkan pasangan calonnya yakni Bambang Sadono dan Muhammad Adnan. Yang lain belum menyelesaikan proses internal sehingga belum dapat dipastikan siapa calonnya. PDI Perjuangan yang memperoleh suara terbanyak pada pemilu 2004 di Jawa Tengah baru akan menutup masa pengembalian formulir tanggal 24 November besok. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) bahkan baru akan memulai pendaftaran calon. Ketiga partai politik itulah, tanpa berkoalisi dengan parpol lain, bisa mengajukan calon pada pilgub mendatang. Sedangkan PPP, PAN, Partai Demokrat dan lainnya semakin belum jelas karena masih harus menuntaskan koalisi untuk bisa mengusung kandidat. Proses penentuan calon yang berlangsung di Partai Golkar relatif cepat dan seakan tidak ada friksi sama sekali. Suaranya solid mendukung ketuanya sendiri untuk maju sebagai calon gubernur. Itulah sebabnya relatif tak ada yang mendaftar lewat partai tersebut. Berbeda dengan PDIP yang menerima pendaftaran dari 13 tokoh yang berasal dari berbagai kalangan mulai akademisi sampai purnawirawan jenderal. Padahal banyak yang memperkirakan proses penentuan yang terjadi di sana bakal tidak transparan. Keputusan sangat tergantung pada Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Demikian juga dengan PKB yang akan menunggu pilihan Gus Dur. Namun terlepas dari proses internal partai yang sangat diwarnai oleh budaya politik yang dikembangkan mereka sendiri, kita haruslah memaklumi hal itu karena pada akhirnya partai politiklah yang mempunyai hak mengajukan calon. Merekalah yang akan berkompetisi dalam pilkada. Kemenangan atau sebaliknya kekalahan dalam pilgub akan memengaruhi citra partai yang mengusung calon. Calon independen baru sebatas wa-cana dan tampaknya masih akan tetap menjadi wacana untuk beberapa tahun ke depan mengingat berbagai realitas po-litik yang ada. Atas dasar pemikiran itulah maka peranan partai politik sangat besar dalam menentukan siapa gubernur yang akan datang. Kalau proses internal parpol dianggap gagal memperoleh figur yang dianggap layak, kapabel dan kredibel, maka bisa dipastikan hasilnya nanti akan mengecewakan. Namun kalau kandidat yang akan bersaing nanti sudah memadai tentu rakyat akan se-nang karena mempunyai banyak pilihan dan yang akan menang kelak benar-benar berkualitas. Sayangnya demokrasi tak menjamin hal itu. Demikian juga proses politik di parpol yang belum tentu hasilnya bisa memenuhi harapan masyarakat. Tak boleh lagi ada yang protes karena memang itulah jalan yang kita pilih bersama. Maka yang diharapkan adalah munculnyal alternatif pilihan yang benar-benar merupakan figur terbaik yang dimiliki saat ini. Bisakah harapan ini terpenuhi? Kembali lagi pada komitmen dan proses politik di parpol. Kalau ternyata mereka cenderung mendorong ketuanya atau figur dari dalam untuk maju maka justru belum tentu optimal. Meskipun kalau itu dilakukan sah dan wajar-wajar saja karena memang lebih berhak. Figur ketua partai yang diperkirakan bakal muncul sebagai kandidat gubernur atau wakil gubernur selain Bambang Sadono adalah Sukawi Sutarip, Murdoko dan Rozak Rais. Masyarakat yang akhirnya berhak memberikan penilaian, Maka tepat sekali apabila parpol dalam mengambil keputusan juga mempertimbangkan hasil jajak pendapat yang netral. Karena memaksakan kader dari dalam belum tentu efektif untuk sebuah pemilihan kepala daerah secara langsung. Itulah sebabnya nama Gubernur Ali Mufiz masih menjadi incaran utama PDIP dan PKB. Karena diyakini peluang incumbent jauh lebih besar. Kalau Pak Ali tidak maju, persaingan pun bakal makin seru. |