| Jumat, 23 Nopember 2007 | NASIONAL |
Menggagas Museum Kars Dunia (2)Tujuh Gua Alami Maknai Perjalanan Manusia
LOKASI calon museum kars dunia di Dusun Mudal, Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro Wonogiri menyimpan potensi tujuh gua alami, yang kaya batuan stalaktit dan stalakmit, yang keberadaannya menyatu dengan bekas alur sungai Bengawan Solo purba. Ketujuh gua itu terdiri atas Gua Mrica, Gua Sodong, Gua Tembus, Gua Bunder, Gua Gilap, Gua Sapen, dan Gua Sonya Ruri. ''Dalam filosofis kejawen, keberadaan gua dengan aneka nama-namanya itu memiliki makna perjalanan jati diri manusia dan alamnya,'' kata Ketua Bappeda Wonogiri Pranoto. Menurut birokrat yang juga tokoh budawayan pemegang anugerah bintang budaya ini, Gua Mrica menggambarkan awal keberadaan dunia sebesar ''mrica binubut ngondar-andir'' sebagai ''Bhuwananda'' (telur jagad) . Sodong, dari awal kata Sad (enam), bermakna enam nafsu, yakni kama asmara (cinta), krodha (amarah), lobha (tamak), harsa (girang), mana (sombong), dan mada (mabuk). Gua Sodong yang mengalirkan air, memberikan isyarat perlunya manusia melakukan penglarutan (membersihkan diri) dari ''pakarti'' nafsu. Setelah menyucikan diri, perjalanan manusia akan mendapatkan alam tembus pandang sebagaimana disimbolkan pada Gua Tembus. Adapun Gua Bunder, menuntun manusia untuk bertekat bulat (bunder) ketika harus menentukan langkahnya. Di dalam Gua Gilap, terdapat stalakmit menyerupai tongkat Brahmadanda, yakni tongkat Dewa Brahma. Juga ada ''lemah sagan'' (tanah yang tidak pernah terkena sinar matahari), berguna untuk sesaji mendirikan rumah, candi, dan keraton serta bangunan monumental lainnya. Memberi tuah ''janma anuraga utama'' (orang yang dicintai sesama karena berada di jalan keutamaan). Dalam perjalanan selanjutnya, akan diperoleh keheningan di tengah keramaian ''jagad gumelar''. Di antara hening dan keramaian itu, ada celah ''sonya ruri'' sebagaimana digambarkan pada keberadaan Gua Sonya Ruri. Setelah melalui tahap-tahap itu, sampailah di Goa Sapen. Di sini berlaku pepatah ''Sadhu Gopika Durjana Winigra Hatatpara'' (ingat melindungi yang baik menundukkan yang jahat), melalui Sad Guna Brata (enam laku prihatin) untuk mengenal Bhuwanatraya (tiga dunia), yakni bumi, angkasa, dan surga. Menyikapi keberadaan aneka makna dari tujuh goa di calon lokasi museum kars dunia itu, maka desain pembangunan fisik gedung museumnya dirancang kaya makna, terhadap nilai kehidupan dan jati diri perjalanan manusia. Semua itu tentunya dengan tidak meninggalkan aspek kejawen, tradisi lokal dan budaya Jawa, serta arsitektur yang monumental dalam rancang bangun yang mengglobal. (Bambang Pur-46) | ||||