logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 23 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Penutup Sayap Batavia Air Jatuh

  • Timpa Pemukiman Warga

JAKARTA- Maskapai penerbangan swasta nasional, Batavia Air, memastikan telah menghentikan sementara (grounded) satu pesawatnya, Boeing 737-400 yang mengalami insiden sayap, Rabu (21/11) di Kampung Malang, Desa Gempol Sari, Sepatan Timur, Tangerang.

"Kami putuskan di-grounded untuk diinvestigasi," kata Manajer Humas Batavia Air, Anton Situmeang, kemarin. Anton membenarkan soal insiden yang terjadi pada Rabu (21/11) pukul 17.00. Ketika itu pesawat Jakarta-Pontianak dengan registrasi PK-YTP buatan 1996 itu baru terbang dari Bandara Soekarno-Hatta.

Sesaat setelah tinggal landas atau sekitar 15 menit di udara, bagian penutup (cover) sayap sebelah kiri terlepas dan jatuh ke pemukiman.

"Cover yang mengelupas ini adalah area di bagian sayap tepat di depan pintu darurat. Bagian yang bisa diinjak penumpang itulah yang terkelupas," katanya.

Namun, ia tak bisa memastikan besarnya bagian yang mengelupas itu. "Pilot kemudian memutuskan kembali ke bandara (return to base/RTB) asal dan ini sudah sesuai prosedur," katanya.

Informasi dari lokasi kejadian, serpihan pesawat yang jatuh ukurannya beragam dari 60 cm persegi sampai 2 meter.

Anton mengatakan, dalam peristiwa itu tidak ada korban dari 138 penumpang yang diangkut. Seluruh penumpang kemudian diberangkatkan lagi dengan pesawat pengganti.

Ia menambahkan, saat ini pihaknya belum mengetahui kejelasan penyebab insiden itu. "Padahal pesawat tersebut menjalani perawatan menengah di Garuda Maintenance Facility (GMF) dua bulan lalu," katanya.

Kompensasi

Pihak Batavia juga akan memastikan apakah pesawat itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat yang rumahnya tertimpa bagian yang terlepas. "Jika ada (korban, red) pasti kami berikan kompensasi," tegasnya.

Juru bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata belum memastikan rencana investigasi terhadap peristiwa itu.

"Kami akan verifikasi laporan awal terlebih dahulu dan untuk itu telah dikirim dua investigator," katanya.

Sementara itu, sejumlah warga Kampung Malang menunggu iktikad baik dari Batavia Air. "Kami menunggu iktikad baiknya, kerugian materi tidak terlalu besar. kami ingin mereka minta maaf," kata Misi, pengurus RW 05.

Ketua Komisi V DPR RI Achmad Muqqowan mempertanyakan sistem pengawasan dan pengecekan pesawat oleh pemerintah. Menurut dia, seharusnya pengecekan tidak dilakukan acak.

Pengecekan acak dinilai tidak memberi efek jera langsung kepada operator. "Pengecekan oleh Departemen Perhubungan tidak boleh dilakukan secara acak lagi. Harus merata untuk memberi efek jera pada operator," tegasnya.

Dia mengaku tidak tahu persis apakah kasus yang menimpa Batavia akibat kurang pengawasan atau pengecekan terhadap pesawat. "Saya tidak tahu persis, tapi operator harusnya jangan sembarangan dengan melakukan cara-cara yang tidak benar," tandasnya. (ant,dtc-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA