logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 23 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Gurita Bisnis Temasek

Merambah Perkebunan, Telekomunikasi hingga Otomotif


SM/dok Temasek Tower Singapura

BAGAIMANA perasaan Anda ketika membaca berita tentang kinerja kedua badan usaha milik negara (BUMN) tersebut. Senang? Bangga? Tapi coba cermati dulu siapa "pemilik" sesungguhnya yang paling menikmati keuntungan dua perusahaan negara itu. Ternyata dia adalah Temasek, BUMN milik Pemerintah Singapura yang kini menjadi gurita bisnis Asia, bahkan dunia.

Secara geografis orang boleh meremehkan Singapura, negara paling kecil yang luasnya hanya selebar Jakarta. Tapi dari segi ekonomi, negeri ini paling maju dan makmur, dengan pendapatan perkapita lebih dari 20.000 dolar AS per tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang penduduknya masih hidup dengan GNP jauh di bawah 2.000 dolar AS per tahun.

Menyadari wilayahnya dan sumber daya manusianya tidak mendukung untuk pengembangan industri berbasis produksi seperti manufaktur dan perkebunan, negara berpenduduk kurang dari 5 juta jiwa ini mengandalkan industrinya di sektor jasa. Sektor yang paling gencar digarap belakangan ini adalah perbankan dan telekomunikasi yang dekade ini sedang mengalami boom.

Seperti diketahui, empat atau lima tahun lalu handphone mungkin masih menjadi barang bergengsi, yang tidak sembarang orang bisa memiliki. Tapi kini perangkat elektronik ini bisa dijumpai di mana saja. Mulai dari masyarakat metropolis hingga rakyat di pelosok desa, mulai dari eksekutif hingga pembantu rumah tangga dan pedagang sayur, semua familiar dengan telepon seluler ini. Fenomena ini yang menarik konglomerat seperti Temasek ikut memperebutkan pangsa pasar Indonesia yang potensial dengan penduduknya lebih dari 220 juta.

Sebenarnya sudah sejak lama Temasek melirik Indonesia. Pada 1996, bersama perusahaan milik keluarga Wapres Jusuf Kalla, Bukaka, anak perusahaan Temasek, Singapore Telecom Mobile (Sing Tel) mendidirikan PT Bukaka Sing Tel yang kemudian memenangi tender pembangunan 403.000 sambungan telepon.

Di Indonesia, Temasek memang melebarkan bisnisnya di sektor-sektor yang cukup strategis. Di sektor perkebunan, lewat Cargill-Golden Agri Resources, perusahaan itu ikut mengembangkan pengelolaan perkebunan minyak kelapa sawit bermitra dengan taipan Liem Sioe Liong dan Ciputra.

Kebijakan privatisasi gila-gilaan yang dilakukan pascarestrukturisasi perbankan beberapa tahun silam dijadikan pintu masuk untuk menguasai saham lima bank terkemuka, Danamon, BII, Permata, NISP, dan Buana. Kekayaan lima bank yang dikuasai ini sudah mencapai total Rp 200 triliun lebih, atau 12% dari seluruh aset bank yang ada di Indonesia.

Temasek juga masuk ke sektor otomotif dengan memborong saham Astra yang menguasai 40% pasar mobil nasional, dan belakang menguasai saham dua BUMN telekomunikasi utama, Indosat dan Telkomsel.

Ambisi Singapura untuk menguasai pasar Asia tampak dari gencarnya Temasek berekspansi di Indonesia. Mereka juga merambah ke negara lain.

Di Thailand perusahaan ini membeli saham Advanced Info Service, perusahaan seluler dengan 9,75 juta pelanggan. Di Hong Kong menguasai APT Satellite, penyedia jasa satelit telekomunikasi untuk kawasan Asia Pasifik. Mereka juga menguasai saham Bharti Group di India.

Untuk ekspansi ke luar negeri ini, Temasek yang didirikan pada 1974, sudah membelanjakan puluhan miliar dolar yang kebanyakan diinvestasikan di sektor keuangan dan telekomunikasi, yang selain menguntungkan juga memiliki nilai strategis.

Monopoli

Di Singapura sendiri perusahaan itu merajai hampir semua sektor, mulai dari keuangan, telekomukasi dan media, transportasi dan logistik, properti, sampai infrastruktur. Bahkan kebun binatang milik negara pun dikelolanya.

Di situs perusahaan, Temasek memasukkan anak perusahaannya dalam dua grup. Yakni grup A untuk bisnis yang berbasis di Singapura, dan grup B untuk yang berlokasi di luar negeri.

Di grup A setidaknya ada 22 perusahaan yang dikelola. Tujuh di antaranya sudah masuk bursa Singapura. Di grup ini termasuk di dalamnya Singapore Airlines, DBS Bank, dan Singapore Telecom. Di sini pemerintah mengontrol penuh jalannya perusahaan. Orang yang paling menentukan adalah Lee Hsien Loong, yang tidak lain adalah PM Singapura saat ini.

Merajalelanya gurita bisnis Temasek tidak terlalu dipersoalkan seandainya kehadiran mereka menciptakan pasar yang sehat. Kenyataannya, langsung atau tidak, perusahaan milik pemerintah Singapura itu telah menghadirkan pasar yang monopolistik.

Seperti diketahui Temasek membeli 12,7% saham Telkomsel dari PT Telkom pada April 2003, lewat anak perusahaannya, Singapore Telecom Mobile (Sing Tel). Jumlah saham kemudian ditingkatkan menjadi 35%. Sebelumnya pada 2002 Singapore Technology Telemedia (STT), anak usaha Temasek lainnya, lebih dulu membeli 41,9% saham PT Indosat, ketika pemerintah RI melaksanakan program privatisasi BUMN guna menutup defisit APBN.

Ironis memang. Ketika pemerintah Indonesia sedang sibuk-sibuknya privatisasi BUMN, Singapura justru menyuruh BUMN-nya ekspansi.

Adanya kepemilikan saham tidak langsung oleh Temasek di PT Telkomsel dan PT Indosat ini telah memunculkan dugaan terjadinya praktik kartel dan oligopoli di bidang jasa layanan seluler. Sebab jasa layanan seluler khususnya di jalur GSM, praktis hanya ada tiga pemain besar, yaitu Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo Pratama Tbk (XL). Artinya sekitar 75 persen market share telekomunikasi Indonesia dikuasai oleh Temasek. Belum lagi PT Excelcomindo Pratama yang sebagian besar sahamnya dikuasai perusahaan Malaysia, Indocel Holding Sdn Bhd (56,92%) dan Khazanah Nasional Berhad (16,81%).

Terbentuknya pasar kartel, monopoli atau oligopoli inilah yang diduga telah menyebabkan biaya percakapan telepon seluler di Indonesia masih tetap termahal dibanding negara lainnya. Sebab pemegang monopoli di mana pun selalu berusaha meraup untung sebanyak-banyaknya.(Fauzan J-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA