logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 23 Nopember 2007 NASIONAL
Line

Kalla: Jangan Perdebatkan Konvensi

  • Rapimnas Evaluasi Pilkada

RAPIMNAS GOLKAR: Ketua Umum Partai Gokar Jusuf Kalla berjabat tangan dengan Wakil Ketua Umum Agung Laksono (kanan) saat pembukaan Rapimnas Ke-43 Partai Golkar di Jakarta, Kamis (22/11). Kegiatan ini untuk merumuskan kriteria calon pemimpin Golkar dan perumusan kebijakan partai ke depan. (57)

JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla meminta agar kader partai tidak meributkan ada tidaknya konvensi untuk menentukan calon presiden (capres). Sebab, ada masalah yang lebih penting, yaitu Pemilu 2009. "Jangan terlalu sibuk habiskan energi untuk perdebatkan konvensi, tapi pada saat dibutuhkan untuk menyukseskan Pemilu, semuanya tidak bertenaga dan kepayahan," katanya saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III Partai Golkar di Hotel Borobudur Jakarta, semalam.

Menurutnya, konvensi bukanlah pertandingan, melainkan baru memilih tim nasional (timnas). "Timnas harus prima pada saat dibutuhkan ketika pertandingan sebenarnya," tandasnya.

Dalam pidato yang sebagian besar diluar teks itu, dia menyatakan tidak ingin Partai Golkar menetapkan capres tanpa memperhatikan hasil Pemilu Legislatif terlebih dahulu.

Kalla menegaskan, rakyat tidak memilih partai karena warna jaketnya. Rakyat juga tidak memilih partai karena kemampuan pemimpinnya dalam berpidato.

"Rakyat juga tidak memilih partai dari banyaknya baliho yang dipasang," tuturnya disambut tawa seluruh peserta Rapimnas.

Untuk itu, dia tidak ingin meniru langkah sejumlah pimpinan partai lain yang berkeliling daerah. "Saya tidak ingin 'bertebaran' ke sana ke mari sambil bagi-bagi sembako," ucapnya sambil tersenyum.

Terkait dengan menurunnya tingkat kesuksesan dalam pilkada, Kalla meminta agar Rapimnas bisa menemukan sistem yang lebih baik. "Pada tahun 2005, keberhasilan Golkar mencapai 35 persen, sedangkan tahun 2006 mencapai 20 persen. Kemudian, kemenangan itu turun lagi pada tahun 2007. Untuk itu, kita harus mengadakan evaluasi terhadap apa yang terjadi," tandasnya.

Kalla menginginkan agar sistem pilkada lebih sederhana. Dia juga menyentil kader partai yang hanya muncul menjelang pilkada atau pemilu. "Jangan sibuk setor muka menjelang pemilu atau pilkada. Partai harus punya sistem untuk menilai kader yang benar-benar bekerja," tukasnya.

Sementara Ketua Steering Committee Syamsul Mu'arif menegaskan, isu konvensi dan capres akan dibahas dalam Rapimnas.

"Kedua hal itu yang akan dibahas dalam Rapimnas. Selain itu, DPP konsisten untuk mencalonkan 25 persen generasi muda di bawah 40 tahun dan 30 persen unsur perempuan."

Buku

Dalam kesempatan itu, Kalla juga memberikan buku berjudul "HMJusuf Kalla: Berkarya bagi Bangsa" kepada Ketua DPD Jawa Tengah Bambang Sadono, mewakili ketua-ketua DPD seluruh Indonesia.

Sejumlah kader Golkar yang hadir dalam acara tersebut antara lain Ketua DPR Agung Laksono, Gubermur Lemhanas Muladi, Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalatta, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Ketua Bappenas Paskah Suzetta, dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Sementara itu, bukan hanya Jusuf Kalla yang bakal diunggulkan menjadi capres dari Partai Golkar. "Capres dari Golkar ada 11 nama," ungkap anggota FPG DPR Yuddy Chrisnandi, Kamis (22/11)

Dituturkan dia, mereka adalah Jusuf Kalla, Agung Laksono, Muladi, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Fahmi Idris, Sultan HB X, Prabowo Subianto. Semuanya adalah para pimpinan DPP.

"Sementara dari luar struktur partai ada Akbar Tandjung, Jimly Asshiddiqie, dan Din Syamsuddin," urai Yuddy.

Menurut dia, nama-nama tersebut hendaknya diseleksi dalam konvensi yang diharapkan mampu menghasilkan capres yang benar-benar menjadi pilihan kader Golkar. "Konvensi diharapkan bisa menghasilkan pilihan yang objektif dan dapat meminimalisasi praktik politik uang," kata anggota Komisi I tersebut.

Meski demikian ada atau tidaknya konvensi baru akan diputuskan dalam Rapimnas Golkar. (H28,dtc-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA