| Jumat, 23 Nopember 2007 | SEMARANG |
Rumpun Bambu Membentuk Lafal AllahKEAJAIBAN alam selalu datang tak disangka. Beberapa tahun silam di sebuah hutan di Jerman, sejumlah pohon membentuk lafal Lailahaillallah. Di Desa Keji, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, tepatnya di samping pondok tarikat Ar Rasuli, baru-baru ini juga ditemukan keajaiban. Satu rumpun bambu di area pondok tersebut membentuk lafal Allah. Kejadian alami ini kali pertama diketahui langsung oleh pengasuh pondok paseban Ar Rasuli Habib Ahmad Syakir. Pada Senin (19/ 11) bakda subuh, Ahmad Syakir melakukan senam kecil di sekitar rumahnya di area pondok. Ia terhenyak tatkala menyaksikan pohon bambu yang menyerupai huruf alif, lam, lam, dan haa yang menjadi lafal Allah. ''Waktu itu saya habis shalat subuh menggerak-gerakkan badan ke beberapa arah. Saat melihat rumpun bambu membentuk lafal menyerupai huruf Allah, saya takjub,'' kata Habib Ahmad Syakir yang juga Kepala Desa Keji ini, kemarin. Karena terhalang pohon jengkol, Habib yang juga akrab disapa Syeikh Syakir ini meminta tolong kepada Wito, warga setempat untuk membersihkan pohon jengkol yang tumbuh di antara rumpun bambu. Setelah dibersihkan lafal tersebut terlihat lebih jelas. ''Lafal Allah di pohon tersebut bisa dibaca jelas ketika saya agak beberapa lama memandanginya.'' Sebelumnya pernah ada firasat? ''Tidak ada. Tapi belum lama ini ada petir yang menyambar bangunan raudhah pondok ini yang berbentuk joglo, tidak terbakar,'' ungkap Syeikh Syakir. Suluk Muut Diceritakannya, tanah di bawah pohon bambu tersebut sering digunakan untuk suluk muut (dzikrul maut). Banyak pejabat yang melakukan ritual ini. Pejabat yang melakukan suluk muut ini ditutupi kain kafan lalu dikuburkan seperti orang meninggal. ''Lama di dalam tanah tergantung penyakit pejabat atau tokoh tersebut. Kalau parah, ya lama di dalam,'' terang Syakir yang menjelaskan suluk ini dilakukan sejak 1999 atau berdirinya pondok. Ritual tersebut dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Suluk ini berdasarkan pandangan bahwa manusia terdiri atas tiga pokok besar, yaitu rohaniah, jasad, dan bayangan. Dengan ditutup kain kafan, bayangan hilang sehingga tiga pokok tersebut susut satu, tinggal dua. ''Kalau bebannya hanya dua, lebih ringan untuk menerobos ke langit,'' tutur Habib. Menurutnya, bisa jadi karena sering dilakukan suluk di bawah pohon bambu, muncul aura atau keajaiban tersebut. Yang akan dilakukannya tetap menghormati kejadian alam tersebut sebagai kebesaran Allah. Dijelaskan dia, tasjid di lafal Allah seperti huruf ''W'' memang tidak ada di lafal tersebut. Menurutnya, tasjid sudah manjing atau merasuk di penglihatan, pemikiran, perasaan, pendengaran, dan ucapan. ''Artinya kebesaran Allah akan menuju pada orang yang memiliki pandangan, pendengaran, pemikiran, dan perasaan yang benar,'' ingatnya. (Rony Yuwono-16) |