logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 23 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Petani Wonoketingal Buru Ribuan Tikus

DEMAK-Menjelang musim tanam pertama, ratusan petani di Desa Wonoketingal Kecamatan Karanganyar melakukan perburuan massal terhadap tikus, Rabu (21/11). Seharian kemarin, mereka berhasil menangkap ribuan tikus. Penangkapan bukan hanya dilakukan laki-laki.

Kaum perempuan juga ikut melakukan penangkapan terhadap binatang tersebut, yang dipandang kurang bersahabat dengan petani. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok.Perburuan dilakukan dengan cara memasukkan asap belerang ke lubang-lubang yang menjadi sarang tikus. Begitu asap memenuhi lubang, tikus pun keluar dan langsung dikejar warga.

Mereka juga menggunakan cangkul yang digunakan untuk membongkar sarang-sarang tikus. Tikus yang berhasil langsung ditangkap dan dimasukkan dalam karung. Sebagian dibakar dan sebagian lainnya dikubur dalam tanah.

Sejumlah pegawai Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Demak menyaksikan kegiatan tersebut. Di antaranya Kasubdin Tanaman Pangan Ir Heru Budiyono MP dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Se-Kecamatan Karanganyar.

Kepala Desa Wonoketingal Ali Munawar, yang ikut dalam perburuan itu, mengatakan, para petani pernah mengalami kerugian besar karena tanamannya dirusak tikus. Bahkan kerugian mencapai 50 persen lebih.Saat itu, tepatnya tahu 2005, sekitar 600 hektare lahan sawah ditanam padi. Namun sebagian besar tanaman itu dirusak tikus, batang pohon dipotong (tikus) dan gabah padi yang mulai berisi dimakan sarinya. ''Dari situlah warga mulai menyatakan perang terhadap tikus,'' katanya.

Meski penangkapan dan pemusnahan dilakukan hampir setiap bulan, ternyata belum dapat menghilangkan secara keseluruhan. Setiap perburuan massal selalu saja menangkap ratusan ekor.Menjelang musim tanam petani melakukan kegiatan tersebut setiap seminggu sekali.

Untuk menekan populasi tikus, menurut Kasubdin Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Demak, Heru Budiyoo, paling efektif dengan penangkapan. Cara lainnya dengan racun.Perkembangan populasinya, lanjut dia, cukup pesat. Setiap bulan, pasangan tikus dapat melahirkan 12 ekor anak. Dan anakan akan berpasangan pada usia 40 hari.

Hewan tersebut akan selalu mengasah gigi taringnya dengan pohon dan tanaman untuk menghindari pertumbuhan giginya.Di Demak, sedikitnya terdapat empat kecamatan yang menjadi endemis tikus sawah. Yakni kecamatan Karanganyar, Gajah, Dempet dan Kebonagung.(H1-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA