| Jumat, 23 Nopember 2007 | SEMARANG |
Pembangunan Jembatan Kangkung Disoal Warga
DEMAK - Pembangunan jembatan di atas Sungai Dolok Desa Kangkung, Kecamatan Mranggen dipertanyakan warga sekitar. Pasalnya, ketika jembatan lama dibongkar dan proses pembangunan yang baru dimulai, ternyata tidak disediakan tempat penyeberangan darurat. Padahal, selama ini jembatan itu menjadi jalur utama bagi warga dari Mranggen yang menuju ke Giri Kusumo dan sejumlah desa seperti Sumberrejo, Margohayu dan lainnya. Akibatnya, warga sekitar dan arus lalu lintas harus melewati jalur alternatif yang jaraknya lebih jauh. Bagi mereka yang mengendarai sepeda motor dan mobil, kata Dul Ganjur, warga Kangkung, jarak tempuh tersebut tidak masalah. Namun tidak demikian dengan pengendara sepeda onthel dan pejalan kaki. Mereka lebih memilih menyeberang sungai karena jaraknya lebih dekat, meski tanahnya cukup terjal. Menyeberang Sungai Hampir setiap pagi dan siang, saat siswa berangkat dan pulang sekolah, banyak yang menyeberang sungai. Pemandangan seperti itu cukup mengkhawatirkan, karena dari tanggul hingga ke dalam sungai posisinya curam dan berpotensi membahayakan bagi mereka yang melewatinya. ''Warga di sini sudah berulang kali meminta agar dibangunkan tempat penyeberangan darurat selama jembatan dalam proses pembangunan,'' katanya. Akan tetapi permintaan itu belum pernah direspons. Padahal, penyeberangan darurat sangat penting. Terpisah, Kasi Jembatan pada Dinas Kimpraswil Ir Dul Mutholib mengatakan, pembangunan jembatan Kangkung dilakukan karena jembatan yang lama sudah kurang layak dan terlalu sempit. Dalam kontrak kerja pembangunan itu memang tidak terdapat anggaran untuk jembatan darurat. Sebab, sudah ada jalur alternatif yang dapat digunakan untuk mengalihkan sementara waktu arus lalu lintas yang melewati jalan tersebut. Pembangunan jembatan yang ditarget selesai tanggal 26 Desember itu menelan biaya sebesar Rp 1,989 miliar lebih. Proyek tersebut dikerjakan PT Nusa Alam Mukti. (H1-16) |