| Jumat, 23 Nopember 2007 | SEMARANG |
''Pabrik Becak'' KrobokanProduknya Pernah Diekspor ke Eropa dan AS
BECAK telah dilarang beroperasi di Jakarta sejak 1989. Tapi di Semarang, kendaraan beroda tiga dengan tenaga kayuh itu masih boleh melenggang. Kalau becak di Ibu Kota banyak dijadikan rumpon ikan, di sini, sarana transportasi tersebut masih diproduksi hingga sekarang. Salah satunya di ''pabrik becak'' milik Kardono (45), Jalan Madukoro III No 235, Kelurahan Krobokan, Semarang Barat. Jangan bayangkan itu pabrik besar dengan jumlah pekerja ratusan. Pabrik becak Kardono cuma industri rumahan. Proses produksinya dilakukan di dalam rumah dan pelataran yang tak terlampau lapang. Kendati demikian, sejak berdiri, hasil produksi pabrik ini telah mencapai ratusan. Tidak hanya di Kota Semarang, becak-becak Kardono telah merambah pasar internasional. Ia pernah mendapat pesanan untuk dikirim ke Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa, seperti Inggris, Prancis, dan Belanda. ''Saya juga pernah mendapat pesanan dari seorang bule untuk dikirim ke Lombok. Saya tidak tahu, untuk apa orang-orang asing itu memesan becak kepada saya.'' Ketrampilan membuat becak dipelajari lelaki yang akrab dipanggil Pak No itu saat bekerja sebagai tukang setel di Satu Hati- produsen dan persewaan becak di Kampung Jekso. Tugasnya memperbaiki becak-becak milik juragannya yang rusak. Saat krisis moneter 1997, ia yang telah bekerja sejak tahun 1970-an, diberhentikan. Dengan menjual dua sepeda motornya, lelaki asal Jepara itu memberanikan diri memulai usaha sebagai juragan becak. Membuat Sendiri Berbekal ketrampilan yang dimiliki, Kardono membuat armada becaknya sendiri. Seiring berjalannya waktu, becak buatannya mulai dikenal orang. Pesanan pun mengalir dengan sendirinya. Lantaran bermodal kecil, Kardono hanya membuat becak berdasarkan pesanan. Pemesan, kebanyakan tukang becak di Semarang. Mereka membeli dengan sistem angsuran. ''Tukang becak mengangsur sehari Rp 5.000, selama 25 bulan. Tapi sebelumnya mereka harus memberi uang muka yang sekaligus jaminan Rp 150.000,'' papar dia. Kalau ada yang membeli tunai, becak buatan Kardono dihargai Rp 2,5 juta. Jika memakai slebor yang bergambar, harganya menjadi Rp Rp 2,7 juta. Untuk mengerjakan gambar itu ia khusus membayar tukang. Becak yang dipakai untuk narik penumpang di Semarang, biasanya tak memakai slebor. Alasanya karena lebih praktis dan tidak memberatkan. Slebor hanya dipesan oleh konsumen dari luar negeri. Mereka menganggap slebor bergambar sebagai aksesoris yang membuat tampilan becak menjadi indah. Dalam membuat becak, Kardono dibantu oleh sejumlah tukang. Mereka merakit pelat, siku, pipa dan besi bulat menjadi kerangka. Lalu dipasang bodi kayu, roda, atap, rotel, sadel, serta aksesoris lainnya. Untuk itu, digunakan peralatan, seperti gergaji khusus untuk memotong pipa, pelat, serta besi beton. Ada lagi bor dan alat las. Becak yang sudah jadi dilengkapi dokumen semacam STNK dan nomor armada. Namun dokumen yang dikeluarkan Satlantas Polwiltabes Semarang itu baru diberikan kepada pemesan, jika mereka telah membayar lunas.(41) |