| Jumat, 23 Nopember 2007 | SEMARANG |
''Bisa-bisa KS Seumur-umur''PRAWITO (50) duduk di pintu gerbang Balai Kota Semarang, Kamis (22/11) siang. Jika sebagian besar rekan sesama pengemudi taksi berteriak-teriak menyampaikan aspirasi, ia hanya diam. Suaranya terwakili oleh dua lembar karton bertulis tangan yang terpasang di dada dan punggungnya: ''Cari setoran susah, taksi tambah terus!!! Sukawi mentingke perute dhewe'', ''Sukawi biang KS (kurang setoran-Red) pengemudi taksi Semarang''. Matahari bersinar terik, Prawito tetap bertahan. Berjam-jam ia bergeming dalam posisi yang sama. Seorang rekan yang iba, memberi pengemudi taksi Semarang City itu makanan kecil, minuman, serta meneduhinya dengan payung hitam. ''Tapa pepe'' dilakukan Prawito sebagai wujud keprihatinan. |