logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 23 Nopember 2007 KEDU & DIY
Line

Tanaman Herbal Masuk Kurikulum SD-SMA

KULONPROGO - Keberadaan Kulonprogo yang sedang giat mengedepankan citra sebagai Kota Herbal ternyata mendapat tempat di Singapura dan Malaysia. Sejumlah pengusaha di sana bahkan memberi tempat khusus di sebuah pusat perbelanjaan bagi produk-produk herbal, dan kerajinan. Pengusaha Kulonprogo dapat memajang produknya di sana secara gratis.

''Belum lama ini rombongan Pemkab dan sejumlah pengusaha berada di Batam mengikuti pameran di sana, kemudian ada pengusaha dari Singapura dan Malaysia menyatakan menyediakan tempat, show room, tanpa dipungut biaya,'' ujar Direktur Teh Mahkota Dewa Salama Nusantara, HM Maryono, usai mengikuti rombongan tersebut, Kamis (22/11).

Dia mengatakan, keberangkatan Pemkab dan pengusaha memang untuk mengenalkan produk-produk lokal. Selama ini sebenarnya banyak potensi produk lokal, namun belum terangkat ke permukaan.

Hanya beberapa saja yang sudah mempunyai nama di tingkatan nasional dan internasional, salah satunya Teh Mahkota Dewa yang dibuatnya bekerja sama dengan UGM.

Dua negara tetangga yang memberi tempat khusus itu juga memesan ribuan teh mahkota dewa sebagai minuman masyarakat di sana.

Bahkan di Suriname, ramuan teh hijau, benalu teh dan mahkota dewa tersebut menjadi minuman nasional rakyat setempat.

Sebagian besar masyarakat di sana memang keturunan Jawa dan merasa senang mendapat produk negeri leluhur.

Masuk Kurikulum

Keseriusan Pemkab dan berbagai pihak mewujudkan Kulonprogo Kota Herbal tampak dari gagasan memasukkan pengetahuan herbal ke dalam kurikulum sekolah. Maryono mengungkapkan itu karena Dinas Pendidikan juga sedang berpikir ke sana.

''Untuk mengangkat citra kota herbal perlu sosialisasi sejak dini, dan yang paling tepat dari anak-anak sekolah. Bekal pendidikan ini sangat penting agar mereka dalam jangka panjang mempunyai wawasan bagaimana mengembangkan kota herbal,'' papar mantan guru itu.

Dia menggagas, kurikulum di SD, misalnya, mengenalkan berbagai jenis tanaman obat kepada siswa. Pada tingkatan selanjutnya, SMP, siswa dapat melakukan penelitian lebih mendalam mengenai masing-masing tanaman.

Di tingkat SMA, siswa dapat meneliti kandungan-kandungan di dalam tanaman herbal sekaligus mengembangkannya.

Memang, menurutnya, untuk merealisasikan butuh waktu. Kendati demikian, dia optimistis dengan kerja sama berbagai pihak, program tersebut dapat berjalan. Dia melihat potensi tanaman herbal di Kulonprogo sangat besar dan belum dimanfaatkan secara maksimal. (D19-24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA