| Jumat, 23 Nopember 2007 | BUDAYA |
Propaganda Semu
AMERIKA SERIKAT (AS) paling lihai memutarbalikkan realitas. Negara itu tak memperoleh kemenangan di Perang Korea tahun 1950-1953 dan Perang Vietnam tahun 1960-an. Lalu, kepayahan di Perang Teluk tahun 1990-an serta berantakan karena menginvansi Irak sejak tahun 2000-an. Kini, negeri itu memunculkan sebuah film propaganda berjudul The Kingdom untuk kembali mencitrakan kebesaran semu. Ya, dalam film dengan lokasi syuting di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dan Arizona State University - Polytechnic Campus, Mesa, Arizona AS, itu dikisahkan pasukan khusus FBI mengobrak-abrik jaringan teroris yang bermarkas di Riyadh, Arab Saudi. Itulah penggambaran yang menjungkirbalikkan kenyataan. Sebab, sampai kini pun AS tak berhasil membekuk musuh nomor satu bebuyutan mereka: Usamah bin Ladin. Namun, di tangan sutradara Peter Berg yang berangkat dari skenario Matthew Michael Carnahan yang terlalu menyederhanakan, bahkan cenderung memandang sebelah mata dunia Islam, film itu hadir sebagai hiburan. Memang tetap ada pesan terselip jelas, betapa persoalan di dunia pasti kelar jika pasukan tentara dari Paman Sam datang. Hebat bahwa jaringan teroris yang mengenal sistem sel berlapis-lapis untuk meminimalisi endusan kawan dan lawan serta bergerak seperti hantu itu dapat mereka hancurkan cuma dalam lima hari. Dan, cuma oleh empat orang anggota pasukan khusus rekrutan FBI plus seorang perwira dari Arab Saudi. Menyisakan Dendam Film berdurasi 110 menit itu bermula dari kisah perbenturan budaya sangat keras di Arab Saudi. Antara budaya Barat yang membanjir lewat produk kapitalisme dan budaya Timur Tengah yang dipercaya masih menganut teguh ajaran Islam sebagai pegangan hidup. Antara penghasil minyak bumi terbesar di dunia dan pengonsumsi minyak bumi nomor satu. Di tengah bombardemen kebijakan kerajaan yang pro-AS itulah, sekelompok orang di bawah pimpinan Abu Hamzah, Robin Hood Riyadh, mengincar komunitas warga AS yang dilokasilasi di Riyadh. Pasukan berani mati mereka meledakkan sebuah ambulans di tengah lintang pukang warga AS yang dihujani peluru. Aksi awal itu diharapkan memberi pesan kepada AS agar sedikit demi sedikit mengurangi cengkraman di Arab Saudi. Horor usai dengan meninggalkan korban 200 orang warga AS dan beberapa polisi kerajaan yang mati berkeping-keping. Nun jauh di AS, agen Ronald Fleury (Jamie Foxx) dan tiga kompatriot (Jennifer Garner, Chris Cooper, dan Jason Bateman) melakukan perjalanan udara 18 jam secara rahasia. Bahkan Gedung Putih pun tak tahu. Di ibu kota Arab Saudi, kecerdasan, kemajuan, kekuatan, dan taktik strategi anggota FBI berperang dengan sekelompok pejuang yang dicap teroris. Sang pemenang? Tentu saja dari AS, sedangkan yang binasa adalah para penentang kebijakan mereka yang prokemandirian. Namun yang tersisa sebenarnya adalah dendam kesumat tak berkesudahan. Itulah dendam antara dunia Islam dan pihak yang menzalimi. (Benny Benke-53) |