logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Nopember 2007 SALA
Line

Inventarisasi Isi Museum Gagal

SOLO- Rencana inventarisasi Museum Radya Pustaka Rabu (21/11) gagal dilaksanakan.Pasalnya museum belum bisa dibuka karena kuncinya masih dibawa pengelola KRH Darmodipuro (Mbah Hadi).

Ahli pakuwon itu hingga kemarin masih ditahan di Mapoltabes bersama dua pekerjanya. Minggu (18/11) petang, polisi menyatakan dia dan dua pekerjanya itu sebagai tersangka penjualan benda-benda koleksi museum.

Para petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng yang kemarin datang dari Klaten ke Museum Radya Pustaka hanya melakukan pertemuan dengan beberapa staf Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Dispersenibud), Satpol PP, dan Badan Informasi dan Komunikasi (BIK) di sebuah kantor.

Museum baru dibuka pada siang hari setelah polisi mendatangkan Mbah Hadi dan salah seorang pekerjanya, Jarwadi. Namun pembukaan museum itu hanya untuk kepentingan penyidikan. Wartawan dan masyarakat umum dilarang masuk. Rencananya inventarisasi akan dilaksanakan hari ini (Kamis, 22/11) dengan minta bantuan petugas Poltabes.

''Semakin cepat dilakukan inventarisasi, semakin baik. Ini untuk menghindari kehilangan lacak bila memang ada benda lain yang hilang,'' jelas Kepala BP3 Tri Hatmaji, usai rapat.

Setelah rapat, BP3 bersama Handartono (Kepala Dispersenibud), GKR Wandansari (Gusti Mung) dan KP Edy Wirabhumi (mewakili Keraton Surakarta), Ketua Yayasan Museum Radya Pustaka KP Hardjonagoro dan KRMH Raditya Lintang Sasangka atau Drs Bambang Irawan MSi dari UNS mengikuti dengar pendapat di Komisi IV DPRD.

Libatkan UNS dan UGM

Untuk melakukan inventarisasi, BP3 membutuhkan waktu sepuluh hari. Dalam inventarisasi itu, BP3 akan melibatkan UNS dan UGM Yogyakarta. Hasil inventarisasi nantinya akan dikompilasikan dengan hasil pendataan koleksi museum yang dilakukan UNS tahun 1992 maupun hasil pendataan BP3 yang dilakukan 2001.

''Untuk membuka museum kami minta bantuan Poltabes. Kalau menurut kami, selama inventarisasi tidak perlu menutup museum. Sehingga pengunjung yang berniat melakukan riset atau keperluan lainnya tetap bisa terlayani dengan baik,'' imbuh Tri Hatmaji.

Selain itu, tidak ditutupnya museum sekaligus menghilangkan kesan kegawatan atas kasus yang terjadi. (G13,G8-67)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA