| Kamis, 22 Nopember 2007 | SALA |
Wawali Tolak Pemberian Tabung Gas
SOLO-Wakil Wali Kota (Wawali) FX Hadi Rudyatmo yang mewakili Wali Kota Joko Widodo menolak pemberian secara simbolis tabung gas berikut kompornya oleh PT Pertamina dalam sosialisasi konversi minyak tanah ke gas di Balai Kota, Rabu (21/11). Penolakan secara simbolis itu bisa ''dibaca'' sebagai penolakan Pemkot terhadap PT Pertamina terkait kebijakan konversi di Kota Solo. ''Dalam pelaksanaan konversi gas kami tidak bisa tergesa-gesa dan ditenggat oleh waktu. Mohon PT Pertamina memahami hal ini,'' kata Wawali di hadapan para lurah, camat, dan tokoh masyarakat saat sosilaisasi. Menurut dia, dalam pelaksanaan konversi Pemkot harus hati-hati dan tidak bisa gegabah. Jangan sampai konversi itu menimbulkan gejolak di masyarakat bawah. Ia mengatakan, konversi itu tidak sebatas membagikan tabung gas dan kompor ke masyarakat untuk menggantikan bahan bakar minyak tanah. PT Pertamina juga harus mengkaji dampak dari konversi itu. Terutama masyarakat yang terkena dampak langsung. Seperti perajin kompor minyak, pangkalan dan pengecer minyak tanah. ''Jangan sampai konversi itu menimbulkan ekses tidak baik. Kalau terjadi ekses, RT, RW, lurah, camat, dan Pemkot yang akan jadi sasaran masyarakat yang merasa dirugikan,'' kata Rudy. Wawali juga meminta sosialisasi konversi gas itu tidak dilakukan secara elitis atau sekadar melibatkan pejabat. Dalam sosialisasi itu masyarakat juga harus dilibatkan. Ia mencontohkan, sosialisasi bisa dilakukan dengan cara memasang tabung gas berikut kompornya di agen atau pangkalan minyak tanah. Dengan diberi bekal seperlunya, lanjut dia, nantinya para pemilik pangkalan atau pengecer bisa menjelaskan langsung pada masyarakat pengguna minyak tanah yang akan beralih ke gas. Menurut dia, sosialisasi itu akan mengena, sebab komunikasi antarwarga itu mudah dipahami karena bahasanya sederhana. Berbeda kalau yang bicara dalam sosialisasi itu para pejabat atau PT Pertaminan sendiri, maka sulit dipahami. ''Kalau PT Pertamina mampu mengatasi sebelas titik rawan, saya kira konversi gas di Solo bisa berjalan lancar,'' kata dia tanpa menyebut sebelas titik yang dimaksud. Sementara itu dalam penjelasannya, Kusnindar, Manajer Regional III Gas Domestik PT Pertamina Wilayah Jateng-Jogja mengatakan, sosialisasi ini merupakan titik awal pelaksanaan konversi gas di Solo. Menurut dia, sosialisasi di Balai Kota yang diikuti tokoh masyarakat, lurah, camat, dan Pemkot akan ditindaklanjuti dengan sosialisasi di kelurahan-kelurahan dan kecamatan. Setelah sosialisasi akan ditindaklanjuti dengan pendataan para calon pengguna gas yang akan dilakukan para RT dan RW. ''RT dan RW dilibatkan karena dialah yang tahu persis masyarakat calon pengguna gas. Setelah melakukan pendataan, RT dan RW melaporkan hasil pendataan pada instansi lebih atas, yakni lurah, begitu seterusnya,'' kata Kusnindar. Untuk konversi gas, menurut dia, tidak ada jatah atau kuota tabung bagi warga Solo. Tabung gas dan kompor akan diberikan bagi warga yang membutuhkan dan sesuai kriteria. Jatah awal sebanyak 80.000 tabung itu hanya acuan saja. ''Pertamina tetap memperhatikan dampak sosial bagi masyarakat yang terkena imbas konversi.''(G8-67) |