logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Nopember 2007 PANTURA
Line

Dinilai Menguntungkan

Nelayan Beralih ke Kapal Grandong

PEKALONGAN - Para nelayan Kota Pekalongan kini memilih mengembangkan kapal grandong dalam mencari ikan di laut dibanding dengan kapal purseseine. ''Dengan kapal grandong, para nelayan mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan,'' kata Anis, pemilik kapal grandong di Pekalongan.

Beberapa nelayan yang ditemui Suara Merdeka, menjelaskan dibanding kapal purseseine, kapal itu lebih kecil dan hanya memerlukan empat sampai tujuh anak buah kapal (ABK) dengan waktu beroperasi 7-15 hari. Sedangkan di purseseine, ada sekitar 40-an orang dengan masa operasi 2-3 bulan.

Dengan menggunakan waktu yang relatif cepat, maka kualitas ikan hasil tangkapan lebih baik karena masih segar. Hal itu menyebabkan harga lelang ikan tinggi. Sedangkan ABK yang ikut juga sedikit, sehingga untungnya bisa didapatkan. ''Tidak seperti kapal purseseine yang terkadang harus rugi,'' kata Anis.

Ketua HNSI Kota Pekalongan, Rasdjo Wibowo yang dikonfirmasi membernarkan nelayan Pekalongan mulai beralih dari kapal besar (jenis purseseine) ke kapal kecil (jenis grandong). ''Kalau dua lalu dulu tidak ada kapal grandong di Pekalongan, kini sudah berkembang menjadi 30-an kapal,'' ujarnya.

Rp 300 Juta

Kapal grandong, kata dia, harganya berkisar Rp 80 juta hingga Rp 300 juta. Kapal itu menggunakan dua jaring yakni jaring besar yang melayang di air, dan jaring yang digunakan di dasar laut. Namun demikian, jaring itu tidak termasuk yang dilarang pemerintah. ''Jaring itu ramah lingkungan, karena ikan kecil tidak akan terjaring,'' katanya.

Rasdjo yang kini juga memiliki satu kapal gandong, memerinci hasil lelang yang dilakukan dari hasil tangkapan kapalnya beberapa waktu lalu. Sekali lelang, kapal grandong bisa menghasilkan Rp 13 juta. Sedangkan perbekalan Rp 6 juta. Dengan hasil itu, maka nelayan masih mendapatkan bagian yang cukup lumayan setelah hasilnya dibagi dengan pemiliknya.

Melihat hal itu, kata Rasdjo, Pemkot tertarik untuk memberikan kredit kepada nelayan Rp 300 juta agar dibelikan lima kapal grandong. Karena harga kapal minimal Rp 80 juta, maka kekurangannya Rp 20 juta/kapal agar diusahakan oleh nelayan. ''Nelayan pun tidak masalah dan akan menerima kredit itu dengan senang hati,'' katanya(A15-52)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA