| Kamis, 22 Nopember 2007 | NASIONAL |
Hashim Djojohadikusumo Diperiksa
SOLO- Hashim Djojohadikusumo, konglomerat yang tinggal di Kemang, Jakarta Selatan, hari ini (Kamis-red) bakal diperiksa sebagai saksi dalam kasus pencurian lima arca koleksi Museum Radya Pustaka Surakarta. Putra begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo (alm) yang sebelumnya disebut berinisial Hs (SM, 21/11) itu akan diperiksa sebagai saksi terkait pembelian lima arca dari tersangka Heru Suryanto (55). Kapoltabes Surakarta Kombes Pol Lutfi Lubihanto menegaskan, apabila adik kandung mantan Pangkostrad Letjen (purn) Prabowo Subianto itu memenuhi unsur yang menguatkan terlibat dalam kasus ini, bisa saja statusnya berubah dari saksi menjadi tersangka. ''Namun kami lihat dulu hasil pemeriksaan nanti,'' tegas Kapoltabes melalui Kasat Reskrim AKP Syarif Rahman, kemarin petang. Polisi telah menahan empat tersangka sejak Minggu (18/11). Selain Heru, juga Kepala Museum Radya Pustaka KRH Damodipuro alias Mbah Hadi (69) serta dua pegawainya Jarwadi (37) dan Suparjo (38). Sejauh ini, lanjut AKP Syarif, penyidik baru memeriksa secara sepihak dari Heru Suryanto selaku tersangka penadah lima arca yang dicuri dari museum. ''Keterangan dari Hashim akan dicek silang sesuai penjelasan yang dikemukakan Heru,'' tandasnya. Sampai sejauh mana keterlibatan Hashim, penyidik akan memperdalam. Hashim dikenal sebagai kolektor benda-benda purbakala. Hadirkan Arkeolog Harga jual arca juga masih diperdalam. Penjelasan dari Heru Suryanto mengenai harga lima arca akan dicek ulang dengan keterangan Hashim selaku pembeli. Mengenai data diri Hashim yang disebut-sebut sebagai putra Soemitro Djojohadikusumo, Syarif menyatakan bisa ya bisa tidak. "Hal Itu bisa diketahui setelah ada pemeriksaan yang bersangkutan, apakah data itu benar atau tidak," kilahnya. Selain menghadirkan Hashim sebagai saksi, Poltabes Surakarta juga akan menghadirkan arkeolog untuk memastikan apakah benda-benda itu masih asli atau tidak. Namun dia belum bisa mengatakan arkeolog itu dari UGM atau dari universitas/lembaga lainnya. "Saya tidak tahu apakah arkeolog itu nanti termasuk dalam tim Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah atau berdiri sendiri," tandas perwira pertama tersebut. Pemeriksaan terhadap kolektor lima arca curian itu dilakukan setelah Satreskrim Poltabes Surakarta berhasil membawa pulang lima arca koleksi Museum Radya Pustaka dari rumah Hashim Djojohadikusumo, yang semula diberitakan berinisial Hs di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, (Suara Merdeka, 21/11). Saat ini arca-arca tersebut diamankan sebagai bukti di ruang Kasat Reskrim Poltabes Surakarta guna penyidikan lebih lanjut. Benda-benda purbakala itu diamankan anggota Resmob Poltabes Surakarta di bawah pimpinan Kanit Resmob AKP Sunarto. Lima arca yang dibawa menggunakan mobil pikap AD-1911-HU tiba di Mapoltabes sekitar pukul 16.00. Lima arca itu berada di dalam balok kayu dan terbungkus kertas. Lima arca tersebut adalah Durga Mahesasuramardhini bertangan dua, Durga Mahesasuramardhini bertangan delapan, Mahakala, Siwa serta Arca Agastya. Selanjutnya, kelima arca yang hilang medio Juli, September dan Oktober 2006 itu, disandingkan dengan arca-arca imitasi yang disita dari Museum Radya Pustaka. Kasat Reskrim menjelaskan, penyitaan lima arca dari rumah Hasyim di Kemang, pihaknya bekerja sama dengan Polres Metro Jakarta Selatan. Tidak ada kendala atau perlawanan saat penyitaan benda purbakala buatan abad VII-X Masehi tersebut. Lima arca tersebut berada dalam satu rumah, tidak terpisah-pisah. Terkait adanya laporan sebagian benda cagar budaya koleksi museum juga beralih ke Keraton Surakarta, Poltabes belum mengambil langkah lebih lanjut. Menurut Syarif yang pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Jepara itu, penyidikan baru difokuskan pada kasus pencurian lima arca di museum. ''Jika pengusutan melebar ke mana-mana, malah nanti tidak tuntas,'' tuturnya. Orang pertama di jajaran Satreskrim Poltabes itu tidak mengelak terkait laporan benda purbakala masuk ke keraton. Informasi tentang benda-benda purbakala di museum yang beralih kepemilikan kepada orang tertentu maupun masuk ke keraton, lanjut dia, bisa ditindaklanjuti dengan penyelidikan. Langkah penyelidikan, kata dia, perlu didahului dengan mengumpulkan data, bukti pendukung, dan asal usul benda-benda purbakala yang benar-benar secara resmi diakui milik museum. Mengenai jumlah, ke mana, dan apa saja benda-benda purbakala yang hilang, polisi masih perlu berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dari BP3 Jateng. Semua informasi, kata dia, akan dipelajari dan diperdalam. Tidak tertutup kemungkinan, jika ditemukan bukti kuat benda-benda bersejarah itu dijual kepada orang-orang tertentu atau masuk ke keraton akan diusut tuntas. ''Namun dalam mengusut kasus ini, tentunya kami mengacu asas praduga tidak bersalah,'' paparnya. Informasi tentang benda-benda purbakala milik museum yang beralih di keraton atau dibeli orang-orang tertentu, lanjutnya, masih didalami. ''Jika kasus pencurian lima arca yang telah diungkap, kemudian berkembang mengarah kasus itu, kami akan menindaklanjuti.'' Bangun Museum Hashim dikenal hobi mengoleksi barang-barang kuno dan bersejarah. Fadli Zon, salah seorang yang dekat dengan Hashim, mengaku selama ini Hashim memang kolektor. Sudah banyak barang-barang yang dikoleksinya. Hashim bertekad bisa membawa barang-barang koleksi di luar negeri untuk dibawa ke Indonesia dan disimpan di musium. ''Pak Hashim ingin membangun satu museum bekerja sama dengan UI. Saya juga terlibat di sini. Jadi, Pak Hashim membawa koleksi-koleksi dari luar negeri ke Indonesia. Misalnya, yang dilelang di Christie dibawa ke sini. Beli dari Belanda, New York, dibawa ke Indonesia. Jadi, beliau ingin kekayaan itu ada di Indonesia," ujar Fadli, yang juga dikenal sebagai pengamat politik ini. Karena itu, menurut dia, bila sekarang ada dugaan Hashim terlibat pencurian arca yang kemudian akan dijual ke luar negeri, itu bukan kelasnya. "Jadi, tuduhan ini bukan kelasnya. Justru Pak Hashim membawa barang-barang seperti itu ke Indonesia dan mencegah barang-barang itu dibawa ke luar negeri," terangnya. Dia berharap polisi lebih teliti menyelidiki kasus ini. "Apakah betul tuduhan ini, dari mana asal-usulnya. Orang-orang yang melakukan pencurian dan berusaha menjual itu mengatasnamakan siapa? Ini harus diselidiki polisi. Pak Hashim tidak ada keterlibatan dalam hal-hal seperti itu," kata dia.(G11,H46,dtc-60) | ||||