| Kamis, 22 Nopember 2007 | NASIONAL |
KRIMINALITASPencurian di Museum Radya Pustaka (3-Habis)Vas Bunga Kristal pun "Disulap" Jadi Cawan Kaca
HILANGNYA sejumlah artefak berujud arca dari Museum Radya Pustaka Surakarta yang kini diusut Poltabes Surakarta, bagai gunung es. Jika ditelusuri lebih mendalam, banyak benda-benda cagar budaya yang telah bergeser kepemilikannya. Sekarang yang menjadi pembicaraan Museum Radya Pustaka Suarakarta karena mencuatnya kasus pemalsuan lima arca. Tetapi jauh sebelum itu, kejadian semacam itu pernah terjadi di penyimpanan atau tempat bersejarah lainnya macam Pura Mangkunegaran dan museumnya, juga Keraton Surakarta dan Museum Art Gallery. Sebagai catatan, kurang lebih 5 tahun silam, Pura Mangkunegaran kehilangan sebuah perisai berkunci yang biasa untuk melindungi alat kewanitaan permaisuri Sang Mangkunagoro. Benda terbuat dari emas musni atau emas buda seberat kurang lebih 3 ons itu, dicuri dari etalase tempat penyimpanannya di museum Pura Mangkunegaran. ''Kangjeng Gusti (KGPAA Mangkunagoro IX-Red) sudah menyerahkan kasus itu kepada polisi. Ya kami masih menunggu hasilnya,'' tutur KRMT Supriyanto Waluyo ketika ditanya perihal proses lebih lanjut pelacakan aset yang hilang itu. Tak hanya abdi dalem yang sehari-hari bertugas di Kabupaten Mandrapura Mangkunegaran itu, banyak kerabat di Pura yang pernah berujar tentang hilangnya barang-barang budaya/purbakala dari Pura. Nun jauh belasan, bahkan beberapa puluh tahun silam, Pura juga pernah kehilangan beberapa bilah keris, lampu robyong kristal penghias Pendapa Agung dan bangunan-bangunan penting. Bahkan, dalam versi lain banyak sekali pusaka macam keris yang berpindah tangan dengan cara ''dipinjam'' sebagai piandel seperti oleh seorang mantan Bupati Karanganyar di masa silam, hingga kini tidak ada kabarnya. Cara-cara serupa juga terjadi di Keraton Surakarta, utamanya di masa lampau, setidaknya di masa pemerintahan Orde Baru. Ironis Ada banyak pusaka, utamanya keris, yang berada di tangan para pejabat di masa Orde Baru, untuk alasan perlu piandel , tetapi tidak pernah kembali ke tempatnya. Bahkan, Suara Merdeka pernah mendapati sebilah keris bernama Kiai Naga Sapta bertatah permata, berada di Museum Leiden, Belanda. Padahal, keris peninggalan Majapahit itu konon jumlahnya hanya tujuh bilah. Tetapi Keraton Surakarta sendiri kabarnya sudah tidak memiliki sebilah pun. ''Ya, memang ironis. Tetapi saya tidak tahu mengapa sampai begitu,'' tutur KRMH Raditya Lintang Sasangka, seorang cucu SISKS Paku Buwono X, yang bersama Suara Merdeka berkunjung ke Museum Leiden waktu itu. Di Museum Radya Pustaka saja, yang tercatat sebagai museum tertua di Indonesia, dipercaya tidak hanya lima arca batu buatan abad VII-X M saja yang hilang. Masih ada beberapa benda purbakala bersejarah lainnya yang diduga kuat tidak sesuai dengan dokumen asli, dan peristiwanya boleh jadi berlangsung jauh sebelumnya. Setidaknya, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah mencatat ada tiga arca perunggu yang tersimpan dalam ruang khusus di Radya Pustaka, juga sudah tidak asli. Belum lagi beberapa hiasan dari kristal, di antaranya vas bunga pemberian Napoleon Bonaparte untuk PB IV, sudah berganti bentuk yaitu cawan terbuat dari kaca. ''Sejumlah benda cagar budaya yang ada di museum tersebut, juga telah kita laporkan ke Poltabes Surakarta,'' tegas Kepala Kelompok Kerja (Pokja) Perlindungan BP3 Jateng, Lambang Babar Purnomo, kemarin. Berdasarkan data itu, tidak sepenuhnya salah ketika sebagian besar orang, khususnya warga Solo hingga polisi menuding bahwa pelaku pencurian tersebut orang dalam. Tudingan itu bukan tanpa alasan. Sebab berdasarkan data, para dedengkot museum itu sangat mengenal lika-liku gedung bersejarah yang berdiri tanggal 28 Oktober 1890 Masehi atau pada hari Selasa Kliwon tanggal 15 Maulud 1820 Ehe (tahun Jawa) tersebut. Dalam perkembangan terakhir, memang museum yang dipimpin KRH Dharmodipuro atau yang akrab disapa mbah Hadi itu, sejak puluhan tahun silam sangat reja atau ramai dikunjungi pendatang dari dalam dan luar kota. Terlebih, Mbah Hadi merupakan ahli pawukon atau horoskop Jawa. Tidak dapat dipungkiri, jika masyarakat dari berbagai lapisan, terutama wong Jawa lebih mengenal sosok Mbah Hadi dari pada museum. Padahal di dalamnya tersimpan berbagai koleksi, mulai dari naskah dokumen karya RTH Djojohadiningrat II. Dia adalah sang pemrakarsa Perkumpulan Paheman Radya Pustaka ini. Setiap hari tidak kurang dari belasan, bahkan puluhan orang sowan Mbah Hadi. Rata-rata mereka menanyakan hari baik dan hari apa saja yang mesti dihindari. Namun, beberapa hari yang lalu warga Solo, dan bangsa ini terhentak ketika polisi benar-benar "mengumumkan" bahwa Mbah Hadi merupakan otak di balik rentetan hilangnya benda-benda cagar budaya yang tidak ternilai harganya tersebut. Yang tidak kalah mengejutkan, ternyata arca-arca yang terbuat dari batu andesit itu sudah lenyap dari peraduannya di museum sejak 2006. Tidak kalah menariknya, lima arca yang dicuri dari museum dan disimpan di rumah Heru, salah satu tersangka di Jalan Empu Prapanca Gentan, Baki, Sukoharjo bisa terbang ke Jakarta dan dibeli Hashim Djojohadikusumo, karena terjamin keasliannya. Lalu kenapa Hashim bisa terpikat benda purbakala itu? Sebelum mengoleksi benda cagar budaya itu, Hashim kabarnya mengirim utusan seorang kolektor berinisial Hugo ke rumah Heru untuk mengecek keaslian arca yang ditawarkan Heru kepada Hasyim.(Heru Susilo, Sri Hartanto-60) | ||||