logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Suwito, Pengepul Ular Desa Ngembak

Selama puluhan tahun, Suwito (56), warga Dusun Krajan, Desa Ngembak, Purwodadi menekuni pekerjaan yang tidak semua orang berani menggelutinya. Jangankan menggelutinya, melihat usahanya saja banyak orang merasa putus nyalinya.

Bagaimana tidak, dibantu dengan seorang pekerja bernama Tibo (43) kakek bercucu lima itu setiap hari ''bergumul'' bersama ratusan ular dari beragam jenis. Mulai dari yang paling berbisa semacam kobra hingga yang dikatakannya tidak berbahaya semisal ular Blere. ''Orang menjuluki saya sebagai pengepul ular. Saya menekuni usaha ini mulai tahun 80-an,''jelas dia, kemarin.

Diakuinya, tidak semua orang bersedia hidup bersama hewan melata tersebut. Selain takut dengan kemungkinan terkena gigitannya, ada sebagian orang yang merasa ngeri melihat sosok binatang itu.

Apalagi ular di tempat Suwito jumlahnya mencapai ratusan. Ada yang dikurung dalam kandang seluas sekitar 40 m2.

Sebagian dikeluarkan untuk disembelih agar bisa diambil daging, kulit, dan empedunya.

Sementara lainnya tertutup erat dalam belasan karung kain berukuran sekitar 50 cm X 30 cm karena belum dimasukkan kandang.

Ular yang masih berada dalam kantong umumnya baru saja disetor oleh sejumlah pemasok di Grobogan.

Kobra, dumung macan, lanang sapi, dan blere disebut-sebut oleh Suwito ada dalam belasan karung yang terserak di belakang rumah dan di samping kandang. Jenis ular ini menurut dia paling diminati orang.

Dua Kuintal

Dalam seminggu, papar dia, sedikitnya terkumpul ular 200 ekor. Jika dirata-rata, berat seekor ular bervariasi antara 0,6-1 kg lebih, jumlah ular yang terkumpul mencapai 2 kwintal.

Ular tersebut kemudian sesuai permintaan pembeli diolah dalam berbagai macam bentuk. ''Khusus Kobra biasanya diminta hidup-hidup. Ada yang diminta kulitnya, dagingnya atau empedunya. Pokoknya sesuai permintaan pembeli,''jelas Suwito.

Namun yang terbanyak, ucapnya, dibeli dalam bentuk kulit, daging dan empedu. Mengenai pembeli, tambah dia, berdatangan dari luar daerah semisal Boyolali, Salatiga, Demak, Sragen dan Wonogiri.

Konon, empedu lumayan banyak dicari karena khasiatnya yang mampu menyembuhkan gangguan pernapasan dan pencernakan.

Mengenai harga, kakek tersebut mengaku tidak menjual mahal ular yang dikumpulkannya.

Ular seberat 1 kg dihargainya Rp 29 ribu untuk jenis kobra. Sedangkan dumung macan menurut dia sekitar Rp 20 ribu dan yang paling murah adalah jenis blere sekitar Rp 11 ribu.

Dari memperjualbelikan ular, dia mampu mengantongi keuntungan sekitar Rp 70 ribu/hari.

Hal itu masih harus dipotong untuk menggaji seorang pekerjanya. Seperti pekerja UKM yang lain dia mengeluhkan keterbatasan modal. Idealnya dia membutuhkan modal tambahan sebesar Rp 15 juta untuk bisa memperbesarkan usahanya.(H 41-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA