| Kamis, 22 Nopember 2007 | INTERNASIONAL |
Pemimpin Asia Sepakati Pakta Perubahan IklimSINGAPURA - Para pemimpin 16 negara Asia, termasuk polutan utama China dan Jepang, menyepakati pakta tentang perubahan iklim, kemarin. Mereka berusaha menyingkirkan perselisihan tentang penindasan Myanmar terhadap protes pro-demokrasi di negaranya. Dalam deklarasi yang ditandatangani di Singapura, para pemimpin KTT Asia Timur komit untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca. Pakta tersebut hanya akan dipakai sebagai dasar bagi negosiasi-negosiasi perubahan iklim pada pertemuan PBB di Bali, bulan depan. Pasalnya, pakta itu tidak berisi target-target tertentu mengenai pengurangan emisi gas atau pembatasan pertumbuhan pada waktu khusus. KTT Asia Timur - 10 negara Asia Tenggara plus China, India, Jepang, Korea, Australia, dan Selandia Baru - juga sepakat bahwa semua negara harus berperan dalam menghadapi tantangan umum perubahan iklim, berdasar prinsip-prinsip yang ada namun berbeda tanggung jawab dan kemampuannya. Deklarasi tersebut tidak mencakup sejumlah target. Menurut PM Singapura Lee Hsien Loong, pakta itu merupakan deklarasi maksud, bukan perjanjian yang dirundingkan tentang apa yang harus dilakukan untuk membatasi diri. Ganti Protokol Kyoto Australia menyatakan pakta tersebut memudahkan untuk merundingkan penggantian Protokol Kyoto tentang pembatasan emisi gas rumah kaca. PBB berharap pertemuan di Bali bulan depan akan mengakhiri perundingan dua tahun dan menyepakati kerangka global baru untuk memerangi perubahan iklim. ''Sikap China dan India dalam masalah ini berubah - mereka menyatakan setuju melakukan sesuatu untuk menstabilkan emisi gas,'' kata Menlu Australia Alexander Downer. China, pelepas karbondioksida terbesar kedua dunia setelah Amerika Serikat, dan India menolak menyetujui target-target tertentu dan menginginkan negara-negara kaya memelopori pengurangan emisi dan mengganti teknologi pembersih udara. ''Perkembangan ini tidak positif namun kami tidak bisa berharap lebih. Kami tidak bisa mengharapkan negara-negara seperti China atau India bersikap sama seperti Jepang. Kedua negara itu tidak bersedia bertindak dahulu,'' kata Emmanuel Fages, analis karbon di Societe Generale cabang Prancis. Satu-satunya target yang disebutkan dalam pakta iklim itu adalah perlindungan hutan. Kelompok itu sepakat berusaha mencapai tujuan meningkatkan daerah hutan di kawasan itu dengan paling tidak 15 juta hektare dari semua jenis hutan pada 2020.(rtr-niek-26) |